Padang – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mendesak masyarakat untuk menjadikan budaya bersih sebagai gaya hidup demi mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan.
Seruan tersebut mengemuka dalam perhelatan Gerakan Indonesia Asri (ASRI) 2026 yang berlangsung di Lapangan Pantai Purus Cimpago, Padang, Jumat (10/7/2026).
Mahyeldi menekankan bahwa keterlibatan aktif setiap individu jauh lebih krusial dibandingkan sekadar bergantung pada kebijakan pemerintah dalam menjaga kebersihan.
Pengelolaan sampah yang disiplin dinilai sebagai perwujudan nilai-nilai religius sekaligus dukungan nyata terhadap agenda kesadaran kolektif nasional.
Pemerintah Kota Padang saat ini terpaksa mengalokasikan anggaran fantastis mencapai Rp24 miliar setiap tahun hanya untuk menangani persoalan sampah.
Besarnya beban fiskal tersebut merupakan konsekuensi langsung dari rendahnya kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya.
Gubernur juga memperingatkan ancaman serius berupa kelebihan kapasitas atau overload yang kini mulai menghantui TPA Regional Sumatera Barat.
Dirinya menegaskan bahwa perluasan lahan pembuangan bukan solusi mutlak, melainkan perubahan perilaku masyarakat di tingkat hulu yang harus diprioritaskan.
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kini mendapat instruksi untuk bergerak lebih aktif dengan pendekatan yang tetap mengedepankan sisi humanis.
Aparat diinstruksikan menyasar penertiban baliho ilegal, perlindungan pohon dari paku, penataan pedagang, hingga pengawasan ketat terhadap sampah di sungai.
Pengendalian sampah dari hulu melalui edukasi warga di sepanjang daerah aliran sungai dianggap sebagai kunci utama mencegah pencemaran kawasan pesisir.
Aksi ini turut melibatkan sinergi lintas sektor, melibatkan unsur TNI, Polri, kalangan pelajar, hingga komunitas mahasiswa.
Gerakan ini diharapkan menjadi momentum transformasi sosial untuk menanamkan kepedulian lingkungan sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.






