Medan – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mendorong tenaga kerja Indonesia untuk segera beradaptasi dengan pergeseran lanskap industri akibat disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, dan ekonomi hijau.
Transformasi digital yang berjalan masif saat ini dipandang bukan sebagai ancaman yang menghapus profesi, melainkan sebagai mesin perubahan fundamental dalam metode kerja.
Pemerintah kini berfokus membangun ekosistem ketenagakerjaan yang tangguh, mulai dari tahap persiapan angkatan kerja hingga penempatan yang presisi di berbagai sektor industri.
Yassierli menegaskan bahwa penyediaan lapangan kerja tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan sinkronisasi kompetensi yang relevan dengan dinamika pasar yang terus berubah.
Strategi penguatan sumber daya manusia kini diakselerasi melalui program pelatihan vokasi serta kegiatan upskilling dan reskilling dalam platform digital SIAPkerja.
Kementerian Ketenagakerjaan turut menargetkan sebanyak 150 ribu peserta untuk terlibat dalam Program Pemagangan Nasional guna memperkaya pengalaman kerja praktis bagi para calon tenaga kerja.
Sektor pendidikan tinggi dituntut untuk lebih progresif dalam menyesuaikan kurikulum agar selalu sejalan dengan kebutuhan industri modern yang serba cepat.
Dunia profesional saat ini pun mulai menggeser paradigma rekrutmen dengan lebih memprioritaskan bukti keterampilan nyata di atas sekadar kepemilikan ijazah formal.
“Industri semakin mengutamakan keterampilan, bukan hanya ijazah, tetapi apa yang benar-benar mampu dikerjakan oleh seseorang,” ujar Yassierli saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Sumatera Utara, Rabu (8/7/2026).
Pihaknya mengimbau generasi muda agar tidak menunda fase persiapan karier hingga masa kelulusan tiba.
Setiap individu diharapkan mampu merancang portofolio, mengejar sertifikasi kompetensi, serta aktif dalam berbagai organisasi sejak dini sebagai modal daya saing.
“CV itu bukan dibuat ketika akan melamar pekerjaan, tetapi direncanakan sejak awal,” pungkasnya.






