Padang – Kerusakan infrastruktur transportasi menjadi biang kerok di balik antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sumatera Barat.
Gangguan akses jalan tersebut menghambat distribusi energi dan logistik, meski ketersediaan pasokan BBM sebenarnya dalam kondisi aman.
Pakar Transportasi Universitas Bung Hatta, Fidel Miro, menyoroti terputusnya efisiensi rantai pasok akibat buruknya kondisi infrastruktur jalan.
Kondisi tersebut memaksa armada pengangkut logistik menelan durasi perjalanan jauh lebih lama dari biasanya.
Perjalanan menuju daerah seperti Solok, Padangpariaman, Bukittinggi, hingga Payakumbuh kini memakan waktu lima hingga tujuh jam.
Padahal, dalam kondisi normal, jalur tersebut hanya memerlukan waktu tempuh sekitar tiga hingga lima jam saja.
Melambatnya mobilitas ini secara langsung memangkas frekuensi pengiriman mobil tangki BBM ke berbagai titik pengisian.
Fenomena ini memicu efek domino yang melumpuhkan sektor energi hingga mengganggu distribusi kebutuhan pokok serta aktivitas industri.
Normalisasi akses transportasi menjadi solusi mutlak untuk memangkas waktu tempuh dan memulihkan ritme distribusi secara optimal.
Perbaikan infrastruktur jalan serta jembatan saat ini menjadi agenda krusial untuk mencairkan sumbatan logistik tersebut.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kini menggalang kolaborasi lintas sektoral bersama BPJN, Pertamina Patra Niaga, dan aparat kepolisian.
Strategi mitigasi difokuskan pada rekayasa lalu lintas serta percepatan perbaikan Jembatan Jurai di Bungus.
Operasional Terminal BBM Teluk Kabung pun terus dimaksimalkan demi menjamin kecukupan cadangan energi bagi masyarakat luas.






