Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, berencana menjalin komunikasi dengan Elon Musk, pendiri Starlink, untuk membahas upaya pemulihan akses internet di Iran. Rencana ini muncul setelah pemerintah Iran memutus akses internet di tengah gelombang demonstrasi anti-pemerintah.
Trump menilai Musk memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.
“Dia sangat mahir dalam hal semacam itu. Dia juga memiliki perusahaan (SpaceX yang membawahi Starlink) yang sangat bagus,” kata Trump, seperti dikutip dari Reuters, Senin (12/1/2026).
Pemerintah Iran memblokir akses internet sejak 8 Januari lalu, seiring dengan meluasnya aksi demonstrasi menentang pemerintahan ulama.
Aksi protes bermula pada 28 Desember 2025, dipicu oleh kenaikan harga kebutuhan pokok. Demonstrasi kemudian berkembang menjadi gerakan yang menentang rezim ulama yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan dari Elon Musk maupun SpaceX terkait pernyataan Trump.
Hubungan antara Musk dan Trump dikenal dinamis. Musk sempat mendukung kampanye Trump pada Pilpres 2024. Namun, keduanya juga pernah berselisih terkait kebijakan pajak.
Meski demikian, hubungan keduanya tampak membaik. Mereka bahkan sempat makan malam bersama di resor Mar-A-Lago milik Trump awal bulan ini.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dijadwalkan mengunjungi fasilitas SpaceX di Texas pada 13 Januari 2026.
Sebelumnya, Musk telah menyatakan dukungannya untuk menyediakan Starlink bagi warga Iran. Tujuannya adalah membantu mereka mengatasi pembatasan pemerintah, termasuk saat protes pada 2022.
Pada tahun 2022, Presiden Joe Biden juga bekerja sama dengan Musk untuk mengaktifkan Starlink di Iran. Langkah ini diambil setelah negara tersebut dilanda protes akibat kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi.
Layanan Starlink juga pernah digunakan di wilayah konflik lain seperti Ukraina. Namun, Musk sempat memerintahkan penutupan Starlink selama “serangan” penting Ukraina pada 2022.






