Tanah Datar – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi tumpuan harapan bagi Fatimah Nuraini dalam melawan penyakit gagal ginjal stadium 3 yang dideritanya.
Warga Kabupaten Tanah Datar ini kini bisa mencurahkan seluruh fokusnya pada proses pemulihan tanpa perlu mencemaskan beban biaya pengobatan yang tinggi.
Saat ini, Fatimah tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Prof. Dr. M. Ali Hanafiah untuk memantau kondisi kesehatannya secara ketat.
Diagnosis gagal ginjal yang ia terima enam bulan lalu merupakan akumulasi dari perjuangan panjang melawan penurunan kondisi fisik selama 18 bulan terakhir.
Sebelum mendapatkan perawatan intensif, ia sempat berulang kali dilarikan ke instalasi gawat darurat (IGD) akibat kondisi tubuh yang melemah dan kebutuhan transfusi darah.
“Sebelum masuk IGD dan dirawat, sekujur tangan saya sakit dan sulit menggenggam, disertai pusing serta kesulitan bernapas,” kenang Fatimah.
Ia mengaku sangat terbantu dengan respons cepat tim medis saat pertama kali tiba di rumah sakit.
“Beruntung saya sudah menjadi peserta JKN sehingga biaya pengobatan dijamin penuh oleh program ini,” tegasnya.
Sebagai peserta mandiri kelas 1, Fatimah merasakan pelayanan tenaga kesehatan yang berkualitas dan tanpa diskriminasi.
“Dokter hingga perawatnya ramah dan responsif, semua pertanyaan kami sekeluarga dijawab dengan baik dan sabar,” ungkapnya.
Fatimah sekaligus menepis mitos keliru di masyarakat yang menyebutkan bahwa durasi rawat inap peserta JKN dibatasi maksimal tiga hari.
Ia membuktikan sendiri bahwa masa perawatan sepenuhnya ditentukan berdasarkan penilaian medis dokter yang menangani pasien.
“Hari ini sudah memasuki hari kelima saya dirawat inap karena dokter menilai kondisi saya belum stabil,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi dan selalu melakukan konfirmasi prosedur langsung kepada pihak rumah sakit.
Fatimah berharap kualitas layanan serta inovasi digital JKN terus ditingkatkan demi mempermudah akses bagi seluruh peserta.
Baginya, JKN bukan sekadar kartu identitas, melainkan investasi perlindungan masa depan yang krusial bagi setiap warga negara.






