Ranah

Ekonomi Indonesia Diprediksi Terus Bertumbuh Hingga 5,2% di 2026

188
×

Ekonomi Indonesia Diprediksi Terus Bertumbuh Hingga 5,2% di 2026

Sebarkan artikel ini
standard-chartered-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-5,2-perse
Standard Chartered Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 5,2 Perse

Jakarta – Kabar baik bagi perekonomian Indonesia, Standard Chartered Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,2 persen pada tahun 2026.

Proyeksi ini didukung oleh konsumsi domestik yang stabil dan momentum investasi yang terjaga.

CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE, menegaskan prospek pertumbuhan Indonesia tetap kuat di tahun 2026.

“Hal ini didukung oleh kuatnya permintaan domestik serta kerangka kebijakan makro yang relatif mendukung,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).

Ekonom Senior Standard Chartered Indonesia, Aldian Taloputra, menambahkan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan meningkat dari 5 persen di tahun 2025 menjadi 5,2 persen di tahun 2026.

Pembelanjaan pemerintah yang tinggi, terutama untuk program prioritas, juga akan menjadi penopang pertumbuhan.

Standard Chartered memperkirakan konsumsi rumah tangga akan tumbuh sekitar 4,8-5 persen.

Inflasi yang terkendali, belanja sosial pemerintah, dan perbaikan pasar tenaga kerja menjadi faktor pendukungnya.

Meskipun sentimen global masih berhati-hati dan ketidakpastian geopolitik berlanjut, Donny menyoroti pentingnya kejelasan arah, konektivitas lintas pasar, dan mitra jangka panjang bagi dunia usaha.

Dari sisi kebijakan moneter, Standard Chartered memprediksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan sikap hati-hati sepanjang tahun 2026.

BI akan menyeimbangkan stabilitas eksternal dan dukungan terhadap pertumbuhan domestik.

Investasi, khususnya melalui pembangunan kapasitas industri hilirisasi, belanja modal pemerintah, dan infrastruktur, diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan.

Chief Economist ASEAN and South Asia Standard Chartered, Edward Lee, menjelaskan, perekonomian global diperkirakan stabil di kisaran 3,4 persen pada tahun 2026.

Kebijakan moneter yang akomodatif, sikap fiskal yang suportif, dan meningkatnya investasi terkait AI menjadi pendorongnya.

“Negara-negara dengan basis permintaan domestik yang lebih kuat, termasuk Indonesia, India dan Filipina, diperkirakan relatif lebih tangguh,” pungkas Edward.