Jakarta – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani menilai investasi hilirisasi akan terus menunjukkan tren positif seiring berkembangnya ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia. Ia menyebut ekosistem itu menjadi fondasi penting bagi masuknya modal ke sektor hilir.
“Sekarang kita sudah punya (ekosistem) di Indonesia. Oleh sebab itu, investasi itu akan berjalan dengan baik,” kata Rosan dalam konferensi pers di kantor Kementerian Investasi, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Pernyataan itu disampaikan Rosan saat memaparkan capaian investasi kuartal pertama 2026. Kementerian Investasi mencatat realisasi investasi sepanjang Januari-Maret 2026 mencapai Rp 498,8 triliun, atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 465,2 triliun.
Dari jumlah tersebut, investasi hilirisasi menyumbang 29,6 persen atau setara Rp 147,5 triliun. Rosan mengatakan porsi itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata sebelumnya yang berada di kisaran 24-25 persen dari total investasi.
Ia menilai capaian itu menunjukkan investasi hilirisasi tetap memiliki prospek stabil dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah, kata Rosan, juga terus memperkuat ekosistem baterai kendaraan listrik agar Indonesia memiliki rantai industri dari hulu hingga hilir.
“Dari mining-nya di nikel, sampai pembuatan baterai, sel baterai, bahkan recycle baterai, itu juga sekarang kita sudah punya di Indonesia. Oleh sebab itu, investasi itu akan berjalan dengan baik,” ujarnya.
Rosan menjelaskan, investasi hilirisasi saat ini masih didominasi sektor mineral. Selama tiga bulan pertama tahun ini, nilai investasi hilirisasi mineral mencapai Rp 98,3 triliun, dengan nikel menjadi penyumbang terbesar senilai Rp 41,5 triliun.
Meski demikian, Rosan berkomitmen mendorong diversifikasi investasi ke sektor perkebunan dan perikanan. Pada sektor perkebunan, ia menyebut hilirisasi kelapa sawit mencatat nilai investasi Rp 18,3 triliun sepanjang kuartal pertama 2026.
Ia mengakui nilai investasi hilirisasi perkebunan masih lebih kecil dibandingkan mineral, namun sektor tersebut dinilai memiliki potensi penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.
Di sektor perikanan, investasi hilirisasi pada kuartal pertama tahun ini tercatat sebesar Rp 1,7 triliun. Rosan mengatakan Kementerian Kelautan dan Perikanan berkomitmen menyempurnakan kebijakan investasi untuk memperkuat arus penanaman modal.






