Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan terpengaruh dalam jangka pendek oleh langkah terbaru Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang memangkas suku bunga.
Prediksi ini disampaikan oleh Senior Market Chartist Mirae Asset Indonesia, Nafan Aji Gusta.
Menurut Nafan, pergerakan IHSG dalam jangka pendek juga akan dipengaruhi oleh dinamika perilisan laporan keuangan per September 2025.
The Fed juga dijadwalkan mengakhiri kebijakan pengetatan kuantitatif pada 1 Desember 2025.
Namun, Nafan mengingatkan bahwa inflasi di Amerika Serikat masih berada di atas target yang ditetapkan oleh Bank Sentral.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia sedang bernegosiasi dengan Pemerintah AS terkait kebijakan tarif, dengan target mencapai tarif nol persen.
“Perjanjian tarif diperkirakan baru bisa disepakati pada November 2025,” jelas Nafan.
Di sisi lain, Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva, menilai pelemahan rupiah disebabkan oleh ekspektasi suku bunga The Fed yang akan bertahan tinggi lebih lama.
“Hal ini menyusul sejumlah data ekonomi AS yang tetap solid, termasuk pertumbuhan PDB dan klaim pengangguran mingguan yang masih stabil,” kata Taufan, Kamis (30/10/2025).
Pada penutupan perdagangan Rabu sore, nilai tukar rupiah melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp 16.617 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu kemarin juga melemah di level Rp 16.631 per dolar AS.






