Padang – Pemerintah Kota Padang berhasil mengubah nasib lahan sawah yang sempat terbengkalai akibat kerusakan irigasi pascabanjir November 2025 lalu.
Transformasi lahan dilakukan melalui program alih komoditi jagung pakan ternak yang kini mulai membuahkan hasil signifikan.
Keberhasilan ini terpampang nyata saat Kelompok Tani Surau Gadang menggelar panen raya jagung pipilan varietas Pioneer 32 di Kelurahan Koto Panjang Ikur Koto, Kamis (25/6/2026).
Sebanyak 8 hektare lahan yang sebelumnya tidak produktif kini telah berubah menjadi area pertanian yang menjanjikan.
Skala program ini tergolong masif karena mencakup total luas lahan mencapai 132,2 hektare.
Area tersebut tersebar di enam kecamatan dan 16 kelurahan dengan melibatkan 45 kelompok tani sebagai penerima manfaat.
Sekretaris Dinas Pertanian Kota Padang, Ansoriudin, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan solusi darurat untuk mencegah lahan pertanian telantar selama masa perbaikan irigasi.
“Intervensi benih Pioneer 32 dan pupuk NPK Mutiara dari Pemko Padang ini adalah solusi darurat pascabencana agar lahan tidak telantar,” jelas Ansoriudin.
Pemerintah Kota Padang menggelontorkan dana APBD sebesar Rp800 juta pada akhir 2025 dan menambahnya menjadi Rp1,7 miliar di tahun 2026.
Anggaran tersebut difokuskan untuk penyediaan benih unggul serta pupuk berkualitas bagi para petani.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kota Padang, Gusnita Sukmawati, mengonfirmasi luasnya jangkauan program tersebut di lapangan.
Pemerintah sendiri tetap menginstruksikan petani agar kembali menanam padi setelah jaringan irigasi berfungsi normal kembali.
Bagi petani yang berminat melanjutkan budidaya jagung, pemerintah menawarkan opsi pemanfaatan lahan tidur aset daerah untuk pengembangan usaha.
Sistem offtaker yang dijalankan bersama Ketua Petani Penggerak, Irman, terbukti ampuh memutus rantai tengkulak.
Mekanisme ini memberikan kepastian harga jual yang jauh lebih adil bagi para petani yang terlibat.






