Jakarta – Para pakar kesehatan dan material memperingatkan adanya risiko kesehatan serius akibat degradasi material pada galon air minum berbahan plastik polikarbonat yang digunakan secara berulang.
Penurunan kualitas fisik wadah air minum akibat paparan lingkungan jangka panjang dinilai berpotensi memicu migrasi senyawa berbahaya ke dalam air.
Profesor polimer dari Universitas Indonesia, Mochamad Chalid, menjelaskan bahwa ikatan rantai polimer pada plastik akan melemah dan terputus seiring dengan lamanya pemakaian.
Ia mengibaratkan kerusakan material ini layaknya rantai kalung yang kehilangan kekuatan pada mata rantainya karena beban penggunaan yang intens.
Demi keamanan konsumen, Chalid menyarankan pembatasan siklus penggunaan galon maksimal 40 kali pengisian atau setara dengan satu tahun masa pakai.
Degradasi material tersebut dikhawatirkan melepaskan Bisphenol A (BPA), senyawa kimia yang merupakan bahan utama pembuat plastik polikarbonat.
Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Junaidi Khotib, menegaskan bahwa dampak BPA terhadap sistem endokrin manusia bersifat laten dan tidak dirasakan secara instan.
Proses pelepasan senyawa ini ke dalam air dipicu oleh akumulasi panas, paparan sinar matahari langsung, serta usia pakai galon yang terlalu lama.
Peneliti keamanan pangan Universitas Katolik Soegijapranata, Inneke Hantoro, turut menyoroti prosedur pencucian galon sebagai faktor risiko tambahan yang sering terabaikan.
Tindakan penyikatan permukaan plastik yang dilakukan berulang kali justru mempercepat proses keausan material pada dinding galon.
Semakin sering galon dibersihkan dan dipakai kembali, semakin besar pula tingkat risiko larutnya senyawa BPA ke dalam air minum masyarakat.






