Ranah

Menonton Film Fantasi Melatih Daya Kreativitas dan Berpikir Kritis Anak

21
×

Menonton Film Fantasi Melatih Daya Kreativitas dan Berpikir Kritis Anak

Sebarkan artikel ini
nonton-film-bisa-latih-imajinasi,-ini-penjelasan-ilmiahnya
Nonton Film Bisa Latih Imajinasi, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jakarta – Sebanyak 14.063 anak di seluruh Indonesia mendapatkan akses menonton film “Na Willa” secara gratis dalam rangka perayaan Hari Anak Nasional.

Inisiatif kolaboratif antara Cinépolis Cinemas dan Visinema Studios ini digelar serentak di 58 jaringan bioskop tanah air.

Program ini bertujuan memanfaatkan layar lebar sebagai medium edukasi sekaligus ruang eksplorasi imajinasi bagi generasi muda.

CEO Cinépolis Cinemas Indonesia, Alejandro Aguilera Garibay, menegaskan bioskop memiliki potensi besar untuk menjadi sarana belajar yang efektif bagi tumbuh kembang anak.

Pemilihan film “Na Willa” dilakukan karena narasi sosok tersebut dianggap merepresentasikan semangat rasa ingin tahu dan kreativitas di tengah perubahan zaman.

Dukungan terhadap kegiatan ini sejalan dengan temuan riset Universitas Lancaster, Inggris, yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts.

Studi tersebut membuktikan bahwa paparan cerita fantasi secara signifikan mampu mendorong anak untuk menghasilkan ide-ide yang lebih variatif.

Narasi imajinatif terbukti melatih otak anak dalam menerapkan pemikiran divergen saat menghadapi berbagai persoalan.

Unsur magis dalam film tidak memicu kepercayaan pada hal mistis, melainkan justru memperkaya kemampuan berpikir di luar kebiasaan.

Selain mengasah aspek kognitif, aktivitas menonton bersama orang tua turut memperkuat kecerdasan emosional dan empati anak.

Media visual yang tepat juga berperan penting dalam memperkaya kosakata serta mempertajam kemampuan berbahasa anak.

Sesi diskusi pasca-menonton menjadi kunci bagi orang tua untuk merangsang daya kritis buah hati mereka.

Namun, para pakar tetap mengingatkan pentingnya seleksi tayangan yang relevan dengan usia anak serta pembatasan durasi layar.

Orang tua harus memastikan keseimbangan antara durasi menonton dengan waktu bermain fisik maupun interaksi sosial di lingkungan sekitar.

Pilihan konten yang mengandung nilai moral, seperti keberanian dan semangat kerja sama, sangat disarankan guna mendukung perkembangan karakter anak.