Ranah

Tiga Penyu Langka Kembali Bertelur di Pesisir Selatan

286
×

Tiga Penyu Langka Kembali Bertelur di Pesisir Selatan

Sebarkan artikel ini
tiga-jenis-penyu-langka-ditemukan-bertelur-di-pantai-kawasan-konservasi-amping-parak
Tiga Jenis Penyu Langka Ditemukan Bertelur di Pantai Kawasan Konservasi Amping Parak

Padang – Tiga jenis penyu langka kembali terpantau singgah untuk bertelur di kawasan konservasi penyu, Nagari Amping Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat (Sumbar). Hal ini menjadi kabar gembira bagi upaya pelestarian lingkungan.

Ketua Laskar Turtle Camp (LTC) Amping Parak, Haridman, merinci tiga jenis penyu tersebut adalah Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), dan Penyu Laut Hijau (Chelonia mydas).

Pengembangan pantai menjadi kawasan konservasi penyu, menurut Haridman, telah dimulai sejak tahun 2015, tiga tahun setelah ide tersebut digagas pada tahun 2012. “Saat ini sudah terdapat tiga jenis penyu langka yang mendarat di kawasan ini untuk bertelur,” kata Haridman, Selasa (2/7/2025).

Haridman menambahkan, keberhasilan Pantai Amping Parak menjadi kawasan konservasi penyu tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk komponen nagari, pemerintah daerah, dan lembaga pemerintah terkait. “Berkat dukungan itu, kawasan konservasi Pantai Penyu LTC Amping Parak terus berkembang dengan berbagai sarana dan prasarana penunjangnya,” terangnya.

Sekretaris LTC, Rino Viki menuturkan, tiga jenis penyu langka tersebut diketahui mendarat saat anggota LTC melakukan ronda rutin dan survei tracking penyu. “Kami menyaksikan penyu-penyu langka itu telah kembali bertelur di kawasan pantai ini sejak beberapa bulan terakhir,” kata Rino Viki.

Kepala Dinas Perikanan Pessel, Firdaus, secara terpisah menjelaskan, kembalinya berbagai jenis penyu di Amping Parak disebabkan oleh gencarnya kampanye perlindungan penyu oleh penggerak konservasi penyu LTC. “Sekarang kegiatan pencarian telur penyu oleh masyarakat telah turun drastis, sehingga penyu nyaman untuk mendarat,” katanya.

Firdaus menyebutkan, saat ini ada enam jenis penyu yang sudah di ambang kepunahan di Indonesia, yaitu Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Tempayan, Penyu Belimbing, Penyu Ridel, dan Penyu Pipih. Menurutnya, seluruh jenis penyu yang hampir punah dan langka itu sebetulnya terdapat di kawasan pantai Pesisir Selatan.

“Penyu dilindungi berdasarkan ketentuan hukum nasional dan internasional. Enam jenis penyu kini terancam punah akibat aktivitas manusia. Pemerintah melalui petugas perikanan dan pemberdayaan kelompok masyarakat terus berupaya mensosialisasikan penyelamatan penyu, salah satu yang berhasil saat ini adalah LTC Amping Parak,” jelas Firdaus.

Lebih lanjut, Firdaus mengungkapkan, peraturan tentang perlindungan hewan langka tertuang dalam UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan, dan PP No. 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan. “Pemerintah akan menindak tegas pelaku yang memanfaatkan dan memperdagangkan penyu, telur penyu, bagian tubuh atau produk turunannya,” tegasnya.

Saat ini, Pessel memiliki penangkaran penyu di Pulau Karabak Ketek serta beberapa pulau lainnya, yang telah mulai membuahkan hasil. Firdaus menambahkan, dengan adanya penangkaran penyu, kesadaran warga untuk melestarikan hewan dilindungi mulai meningkat.

Menurut Firdaus, pulau-pulau yang dijadikan sebagai kawasan penangkaran kini telah kembali banyak didatangi penyu. “Pantauan kami, di pulau atau kawasan yang dijadikan penangkaran, rata-rata penyu yang mendarat sudah mencapai sepuluh ekor setiap malam saat musim bertelur,” ungkapnya.

Kondisi ini, lanjut Firdaus, jauh berbeda dengan sebelum adanya kawasan penangkaran penyu. “Sebab, dengan adanya kawasan penangkaran penyu ini, banyak tukik (anak penyu) yang dilestarikan itu tumbuh menjadi penyu dewasa dan kembali bertelur ke tempat semula ditetaskan,” pungkasnya.