Jakarta – Harga ponsel pintar kelas atas atau flagship diprediksi bakal melambung tinggi sepanjang tahun 2026.
Lonjakan harga ini dipicu oleh krisis pasokan komponen krusial akibat gempuran permintaan infrastruktur kecerdasan buatan atau AI.
Pusat data global kini menyerap alokasi lini produksi semikonduktor secara masif demi memenuhi kebutuhan memori DRAM dan NAND Flash berkecepatan tinggi.
Para produsen chip lebih memilih memprioritaskan sektor AI karena menawarkan margin keuntungan yang jauh lebih menggiurkan dibandingkan segmen perangkat konsumen.
Lembaga riset Gartner memproyeksikan kenaikan harga SSD dan DRAM akan menekan struktur biaya produksi secara signifikan.
Estimasi tren kenaikan ongkos produksi tersebut berpotensi mengerek harga jual smartphone hingga 13 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Analis dari IDC mempertegas bahwa kelangkaan stok RAM menjadi faktor utama yang mendongkrak harga rata-rata perangkat seluler di pasar global.
Tekanan finansial bagi pabrikan ponsel kian berat menyusul keputusan Qualcomm untuk menaikkan harga chipset Snapdragon mulai September 2026.
Kebijakan Qualcomm ini memukul langsung raksasa teknologi Android seperti Samsung, Xiaomi, OnePlus, Honor, hingga Motorola.
Produsen diperkirakan akan membebankan kenaikan biaya produksi tersebut sepenuhnya kepada konsumen melalui harga ritel perangkat yang lebih mahal.






