EkonomiRanah

IHSG Melemah, Investor Ambil Untung Jelang Libur Panjang

173
×

IHSG Melemah, Investor Ambil Untung Jelang Libur Panjang

Sebarkan artikel ini
ihsg-ditutup-melemah-ke-level-8.265
IHSG Ditutup Melemah ke Level 8.265

Jakarta – Setelah mencatatkan penguatan selama tiga hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terkoreksi pada penutupan perdagangan Kamis (12/2/2026). IHSG ditutup di level 8.265,35.

Penurunan ini tercatat sebesar 25,62 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya pada hari Rabu, yang berada di level 8.290,97.

Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, aksi ambil untung oleh investor menjelang libur panjang menjadi salah satu faktor utama yang memicu pelemahan IHSG.

Investor cenderung memilih strategi trading jangka pendek di tengah kondisi pasar yang masih diwarnai ketidakpastian.

Meskipun terkoreksi, posisi IHSG saat ini masih lebih tinggi dibandingkan level terendah yang sempat tercatat pada 2 Februari 2026, yaitu 7.922,73.

Kala itu, IHSG mengalami penurunan tajam akibat sentimen negatif dari MSCI dan lembaga pemeringkat Moody’s.

Dari sisi sektoral, sektor kesehatan mencatatkan penurunan paling dalam. Sementara itu, sektor barang baku justru mengalami kenaikan tertinggi.

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menggelar sarasehan ekonomi pada Jumat (13/2/2026) untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi perekonomian nasional dan respons pemerintah terhadap perkembangan global.

Pemerintah berharap forum ini dapat meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings.

Pelaku pasar juga akan mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) bulan Januari 2026, yang diperkirakan melambat menjadi 2,5 persen (yoy) dari 2,7 persen (yoy) pada Desember 2025.

“Data inflasi ini akan menjadi perhatian investor setelah data nonfarm payrolls AS lebih baik dari perkiraan,” ujar Ratna.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor mencatatkan penguatan, yaitu barang baku (1,42 persen), properti (0,75 persen), dan transportasi & logistik (0,64 persen).

Sebaliknya, delapan sektor mengalami penurunan, dengan sektor kesehatan mencatat penurunan terdalam (1,21 persen), diikuti oleh barang konsumen non primer (1,00 persen) dan infrastruktur (0,71 persen).