Ranah

Shadiq Pasadigoe Soroti Pembinaan Humanis Warga Binaan

68
×

Shadiq Pasadigoe Soroti Pembinaan Humanis Warga Binaan

Sebarkan artikel ini
hari-bakti-pemasyarakatan,-shadiq-pasadigue:-kesempatan-baik-tingkatkan-keadilan-dan-keberadaban
Hari Bakti Pemasyarakatan, Shadiq Pasadigue: Kesempatan Baik Tingkatkan Keadilan dan Keberadaban

Jakarta – Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan tahun ini kembali menyoroti posisi pemasyarakatan sebagai bagian penting dari upaya negara menghadirkan keadilan yang lebih berkeadaban. Dengan tema “Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima,” momentum tersebut menegaskan bahwa pembinaan, pemulihan martabat manusia, dan kesempatan untuk berubah menjadi inti sistem pemasyarakatan di Indonesia.

Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Dr. (H.C) Ir. M. Shadiq Pasadigoe, SH., MM, mengatakan pemasyarakatan tidak semata identik dengan menjalani hukuman. Menurut dia, pemasyarakatan merupakan proses kemanusiaan untuk membantu seseorang menemukan kembali jati dirinya.

“Pemasyarakatan adalah cermin peradaban. Di sanalah negara diuji, apakah mampu memperlakukan manusia dengan adil, bahkan ketika mereka pernah melakukan kesalahan,” ujar Shadiq dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).

Legislator NasDem dari Daerah Pemilihan Sumatra Barat I itu menilai sistem pemasyarakatan yang baik harus berlandaskan keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Ia menyebut pendekatan yang humanis akan memberi ruang bagi warga binaan untuk kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.

Shadiq juga mengaitkan pandangannya dengan pengalaman keluarga dan sejarah bangsa. Ia menyampaikan bahwa ayahandanya pernah menjalani pengasingan dan penahanan di Boven Digoel, Papua, yang dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai tempat pembuangan tokoh-tokoh bangsa.

“Dari sejarah itu kita belajar, bahwa di balik keterbatasan dan penderitaan, selalu ada harapan. Bahwa manusia tidak boleh dihakimi selamanya oleh masa lalunya. Setiap insan memiliki ruang untuk berubah dan memperbaiki diri,” tegasnya.

Ia menegaskan, pemasyarakatan pada dasarnya adalah upaya memanusiakan manusia. Menurut dia, hukum tidak hanya berfungsi menghukum, tetapi juga menuntun. Hukum, kata dia, bukan sekadar memberi batas, melainkan membuka jalan untuk kembali.

“Hukum tanpa kemanusiaan akan kehilangan makna, dan pemasyarakatan tanpa harapan akan kehilangan arah. Maka di sinilah negara harus hadir, bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya.

Shadiq berharap peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan dapat memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas pelayanan, pembinaan, dan perlindungan hak warga binaan. Dengan demikian, sistem pemasyarakatan dapat benar-benar menjadi sarana transformasi sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan momentum itu sebagai titik tolak untuk memperkuat empati dan keadilan.

“Karena sejatinya, ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dilihat dari kemegahannya, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang pernah jatuh, lalu diberi kesempatan untuk bangkit kembali,” pungkasnya.