Jakarta – Penjualan bisnis travel untuk perjalanan internasional dilaporkan mengalami penurunan signifikan selama Februari hingga Mei 2025. Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) menyebut penurunan ini sebagai fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ketua Umum Astindo, Pauline Suharno, mengungkapkan bahwa penurunan penjualan ini menjadi perhatian serius bagi industri pariwisata.
“Tidak pernah sampai empat bulan itu minus terus,” ujar Pauline dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Menurut Pauline, penjualan travel sebenarnya sempat menunjukkan tren positif pada Januari 2025 dengan kenaikan 18,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, performa tersebut melemah di bulan-bulan berikutnya dibandingkan tahun 2024.
Minus penjualan tercatat berkisar antara 0,89 persen hingga 15,88 persen. Pauline mengaku heran dengan kondisi ini, padahal agen travel telah gencar menggelar travel fair pada Februari.
“Sepanjang weekend itu bisa ada dua-3 travel fair hampir di setiap shopping mall. Nah itu masih minus, berarti kan daya belinya masih agak kurang di bulan-bulan itu,” jelasnya.
Penurunan penjualan pada Maret 2025 juga menjadi sorotan. Pauline menilai hal ini wajar karena pengeluaran masyarakat lebih banyak dialokasikan untuk momen Ramadan dan Idulfitri.
Begitu pula dengan April dan Mei, ketika pengeluaran masyarakat cenderung fokus pada keperluan pendidikan. “Tapi angka minus ini nggak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya,” tegasnya.
Kondisi penjualan agen travel mulai membaik pada Juni dan Juli, dengan kenaikan masing-masing sebesar 14 persen dan 76 persen.
Peningkatan penjualan berlanjut hingga Oktober, namun Pauline menyebut kenaikan pada September dan Oktober bersifat musiman menjelang liburan akhir tahun.
Sementara itu, penjualan perjalanan domestik masih minus hingga Agustus 2025. Pauline menyoroti pembatasan perjalanan dinas di luar kota oleh pemerintah sebagai salah satu penyebabnya.
Penjualan domestik baru kembali meningkat pada September dan Oktober 2025. “Pola-pola perjalanan ini sudah kami antisipasi sebelumnya, karena melihat dari government spending yang memang begitu kuat di Indonesia,” jelasnya.
Pauline menjelaskan bahwa penurunan penjualan ini disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah. Sementara itu, tidak ada perubahan pola perjalanan bagi golongan kelas atas.
Pauline juga mengungkapkan bahwa pengguna jasa agen travel terbanyak adalah kalangan kelas atas.
“Yang datang ke travel agent itu, memang yang masih punya dana lebih untuk dialokasikan untuk membayar service fee kami,” pungkasnya. Kalangan menengah cenderung memanfaatkan aplikasi travel untuk melakukan transaksi perjalanan.






