Ranah

Danantara Mulai Bangun Enam Proyek Hilirisasi Senilai Rp117 Triliun

404
×

Danantara Mulai Bangun Enam Proyek Hilirisasi Senilai Rp117 Triliun

Sebarkan artikel ini
6-proyek-penghiliran-tahap-i-yang-diluncurkan-danantara
6 Proyek Penghiliran Tahap I yang Diluncurkan Danantara

Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memulai babak baru dalam program hilirisasi dengan mengucurkan investasi sebesar US$ 7 miliar atau setara Rp 117 triliun.

Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan enam proyek tahap pertama.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa proyek-proyek ini akan tersebar di berbagai lokasi dan mencakup beragam sektor industri.

“Enam proyek ini kurang lebih investasi kami mencapai US$ 7 miliar (sekitar Rp 117 triliun),” kata Rosan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Rosan menambahkan, tahap awal ini merupakan bagian dari rencana besar yang mencakup 18 proyek hilirisasi yang akan segera direalisasikan.

Hilirisasi sendiri menjadi program prioritas utama bagi Sovereign Wealth Fund (SWF) tersebut.

Seluruh proyek pada tahap pertama ini didanai sepenuhnya oleh Danantara.

Namun, ke depannya, terbuka peluang bagi pihak lain untuk turut berinvestasi dalam proyek-proyek strategis ini.

Setiap proyek dirancang untuk mendukung swasembada pangan dan energi nasional.

Berikut adalah daftar enam proyek yang diluncurkan pada tahap pertama:

  1. Hilirisasi Bauksit menjadi Alumina dan Aluminium

Proyek ini berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dengan penambahan fasilitas smelter.

Perusahaan yang terlibat antara lain PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Antam Tbk, dan PT Bukit Asam Tbk.

Smelter baru ini akan terintegrasi dengan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1.

Investasi mencapai sekitar Rp 40,6 triliun dan diproyeksikan dapat memproduksi 600 ribu metrik ton aluminium per tahun, serta menyerap 1.370 tenaga kerja.

SGAR Fase II juga akan dibangun dengan kapasitas produksi 1 juta metrik ton per tahun.

Kapasitas produksi alumina domestik akan meningkat menjadi 2 juta ton per tahun dengan penyerapan bijih bauksit sebesar 6 juta ton per tahun.

  1. Pabrik Bioetanol

Proyek ini berlokasi di Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) dalam proyek ini.

Kapasitas produksi ditargetkan mencapai 100 KLPD (Kilo Liter Per Day) untuk mendukung sektor energi.

Bioetanol yang dihasilkan berasal dari tebu yang diperoleh dari perkebunan milik perusahaan dan masyarakat sekitar.

Pabrik pengolahan akan memanfaatkan fasilitas PT Energi Agro Nusantara (PT Enero), yang merupakan anak perusahaan PTPN.

Proyek ini diklaim mampu mengurangi impor bahan bakar minyak senilai US$ 13,9 juta dan menurunkan emisi tahunan sebesar 66 ribu ton setara karbon dioksida.

Saat ini, 5 persen etanol telah diterapkan pada bahan bakar minyak Pertamax Green 95 yang dijual di Pulau Jawa.

  1. Proyek Biofinery

PT Pertamina (Persero) menggarap proyek ini di Cilacap, Jawa Tengah.

Fasilitas ini dirancang untuk mengolah hingga 6 ribu barel minyak jelantah per hari.

Saat ini, proyek ini menghasilkan 27 kilo liter (KL) Sustainable Aviation Fuel (SAF) per hari.

Pada tahun 2029, produksi SAF diproyeksikan meningkat signifikan menjadi 887 KL per hari.

Proyek ini berpotensi menurunkan impor Avtur, mendukung peta jalan penggunaan SAF di Indonesia, mengurangi emisi hingga 600 ribu ton setara karbon dioksida per tahun, meningkatkan pendapatan produk domestik bruto sekitar Rp 199 triliun per tahun, dan menyerap hingga 5.900 tenaga kerja tidak langsung.

Proyek ini mengutamakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30 persen dan memberdayakan lebih dari 2.900 kepala keluarga.

  1. Peternakan Unggas

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food mengerjakan proyek industri perunggasan, khususnya peternakan ayam.

Target proyek ini adalah menyerap 1,46 juta tenaga kerja, memproduksi 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur ayam, menambah pendapatan peternak hingga Rp 81,5 triliun per tahun secara bruto, dan menopang program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ground breaking dilakukan di enam lokasi, yaitu Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Kabupaten Bone, Kabupaten Paser, dan Kabupaten Sumbawa.

Lokasi awal ini merupakan bagian dari 30 lokasi yang direncanakan untuk hilirisasi perunggasan.

  1. Pabrik Garam Bahan Baku Industri

Proyek senilai Rp 2 triliun ini berlokasi di Desa Pangarengan, Kabupaten Sampang, Jawa Timur.

Target kapasitas produksi mencapai 200 ribu ton per tahun dan akan menyerap 200 tenaga kerja.

Pelaksanaan proyek dilakukan melalui skema join operation antara PT Garam (Persero), PT Putra Arga Binangun, dan China Chemical Engineering Indonesia.

  1. Pabrik Garam Bahan Baku Industri dengan Teknologi MVR

Proyek pabrik garam dengan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) senilai Rp 1 triliun ini berlokasi di Manyar, Gresik, Jawa Timur.

Target kapasitas produksi mencapai 100 ribu ton per tahun dan akan menyerap 150 tenaga kerja.

Pelaksanaan proyek dilakukan oleh PT Garam (Persero) bersama PT Unilever Indonesia Tbk.

Selain itu, terdapat pembangunan pabrik garam olahan di Segoro Madu 2, Gresik, Jawa Timur.

Nilai investasi proyek sebesar Rp 112 miliar dan akan menyerap 200 tenaga kerja.

Proyek ini sepenuhnya didanai Danantara melalui PT Garam (Persero).

Tiga proyek PT Garam (Persero) yang ground breaking hari ini akan menambah kapasitas produksi sebesar 380 ribu ton per tahun.