EkonomiRanah

Garuda Indonesia Optimistis Operasikan Seluruh Armada pada 2026

344
×

Garuda Indonesia Optimistis Operasikan Seluruh Armada pada 2026

Sebarkan artikel ini
danantara-targetkan-semua-pesawat-garuda-indonesia-terbang-pada-2026
Danantara Targetkan Semua Pesawat Garuda Indonesia Terbang pada 2026

Tangerang – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menargetkan seluruh armada pesawat Garuda Indonesia dapat kembali mengudara pada tahun 2026. Target ini diungkapkan di tengah banyaknya pesawat Garuda yang terparkir sejak pandemi Covid-19.

Managing Director Danantara Indonesia, Febriany Eddy, menyampaikan target tersebut saat ditemui di kantornya, Jumat (14/11/2025).

“Target kami adalah tahun depan semua yang hari ini grounded semua bisa terbang, tentu bertahap ya,” ujarnya.

Dana segar dari Danantara sebagian besar akan dialokasikan untuk perawatan pesawat. Febriany menjelaskan, banyak pesawat yang belum bisa terbang karena belum menjalani perawatan yang diperlukan.

Tidak beroperasinya pesawat selama beberapa tahun terakhir berdampak pada hilangnya pendapatan. Namun, maskapai tetap harus membayar sewa pesawat dan biaya lainnya.

Menurut data dari situs resmi Garuda Indonesia, saat ini terdapat 77 pesawat dalam armada mereka. Pesawat tersebut terdiri dari berbagai jenis seperti Boeing 777-300ER, Boeing 737-800NG, Airbus A330-200, Airbus A330-300, dan Airbus A330-900neo. Rata-rata usia pesawat adalah 13,06 tahun per 31 Mei 2025.

Danantara telah menambah modal sebesar Rp 23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management. Modal tersebut terdiri dari setoran tunai Rp 17,02 triliun dan konversi utang Rp 6,65 triliun. Keputusan ini disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (12/11/2025).

Dari total dana tersebut, sekitar Rp 8,7 triliun (37%) akan digunakan untuk modal kerja Garuda Indonesia, termasuk perawatan pesawat.

Sementara itu, Rp 14,9 triliun (63%) dialokasikan untuk mendukung operasional anak perusahaan, Citilink. Rinciannya, Rp 11,2 triliun untuk modal kerja dan Rp 3,7 triliun untuk pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina periode 2019-2021.

Febriany menekankan bahwa biaya tambahan untuk perawatan tidak dapat ditunda lagi mengingat kerugian perusahaan yang besar. “Kami akan ikut monitor dan tidak akan bekerja bersama dengan tim manajemen Garuda Indonesia,” tegasnya.

Selain Garuda Indonesia, Febriany juga mengungkapkan bahwa armada Citilink juga banyak yang tidak beroperasi. Dengan adanya tambahan dana, diharapkan kedua maskapai dapat kembali mengoperasikan seluruh armadanya.

“Garuda dan Citilink itu tidak murni sinergi, makanya itu juga salah satu tranformasi yang kami lakukan,” pungkasnya.