Ranah

Kemenperin Dorong Industri Mamin Beralih ke Kemasan Kertas

64
×

Kemenperin Dorong Industri Mamin Beralih ke Kemasan Kertas

Sebarkan artikel ini
kenapa-industri-makanan-perlu-beralih-ke-kemasan-kertas
Kenapa Industri Makanan Perlu Beralih ke Kemasan Kertas

Jakarta – Kementerian Perindustrian mendorong industri makanan dan minuman meningkatkan penggunaan kemasan berbasis kertas sebagai alternatif pengganti plastik di tengah kenaikan harga bahan baku. Kebijakan ini dinilai bisa membantu mengurangi tekanan akibat terganggunya pasokan plastik di pasar global.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyebut lonjakan harga plastik dipicu terhambatnya pasokan nafta dari Timur Tengah setelah eskalasi konflik Iran-Israel. Gangguan itu kemudian berdampak pada industri petrokimia dunia.

“Kami mendorong kemasan berbasis kertas karena masih banyak industri makanan dan minuman yang bisa mengutilisasi kemasan ini,” ujar Putu dalam media briefing di kantor Kementerian Perindustrian, Selasa, 21 April 2026.

Menurut Putu, dari sisi harga kemasan berbasis kertas tergolong kompetitif. Namun, pemanfaatannya tetap memerlukan dukungan ekosistem industri yang siap dan investasi yang memadai agar penerapannya bisa meluas. “Ini mungkin nanti yang menjadi game changer,” katanya.

Ia menjelaskan, saat ini sekitar 48 persen kemasan industri makanan dan minuman masih berbasis plastik. Sementara itu, penggunaan kemasan kertas telah mencapai sekitar 28 persen.

Dengan komposisi tersebut, Putu menilai kemasan kertas sudah cukup luas digunakan di Indonesia. Ia juga menyebut kemasan ini memiliki daya tahan yang baik untuk menjaga kualitas produk. “Seperti untuk susu, jus, dan banyak produk lainnya. Ini sudah kompetitif,” ujarnya.

Sebelumnya, Putu menyampaikan stok bahan baku plastik untuk industri makanan dan minuman hanya tersedia untuk dua bulan ke depan. Kondisi itu sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri terkait kelanjutan pasokan plastik.

Namun, setelah rapat Kementerian Perindustrian dengan produsen plastik, ia mengatakan bahan baku plastik kini sudah kembali tersedia. Sebelumnya, stok bijih plastik sempat tersendat, tetapi pasokan telah pulih. “Sekarang sudah tersedia dan tidak ada kekhawatiran. Nah, memang dikhawatirkan harganya naik,” ujarnya.

Putu menegaskan, yang paling penting saat ini adalah memastikan pasokan tetap tersedia. Untuk menahan kenaikan harga, Kementerian Perindustrian juga mengusulkan sejumlah langkah kepada pelaku industri.

Salah satunya adalah pembebasan bea masuk impor LPG untuk industri plastik. “Nah ini yang diusulkan oleh Pak Menteri bagaimana untuk sementara bisa dibebaskan bea masuknya,” katanya.

Ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi turut mendorong kenaikan harga plastik. Sekitar 70 persen pasokan global nafta berasal dari Timur Tengah. Nafta merupakan cairan hasil olahan minyak bumi yang menjadi bahan baku utama industri petrokimia untuk memproduksi plastik.

Kenaikan harga resin plastik disebut memberi tekanan langsung dan signifikan terhadap biaya operasional pelaku usaha, terutama sektor yang sangat bergantung pada kemasan seperti makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, dan ritel.