Pekalongan – Sektor industri kreatif batik di Pekalongan menunjukkan ketangguhan melalui sinergi antara perajin lokal dengan dukungan korporasi.
Grya Batik Dini milik Maghfur Hadi kini berhasil mempertahankan roda produksi berkat bantuan permodalan dan perluasan akses pasar dari Koperasi Jasa Bangun Bersama (KBB) binaan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).
Bantuan strategis tersebut menjadi instrumen vital bagi pria berusia 53 tahun ini dalam menjaga stabilitas operasional bersama sepuluh orang karyawannya.
“Kami sangat terbantu sekali untuk pemasaran dan permodalan yang diberikan Koperasi Jasa Bangun Bersama TBIG,” ujar Purhedi, sapaan akrab sang perajin.
Upaya ini menjadi kunci adaptasi usaha yang dirintis sejak tahun 2003 tersebut dalam menghadapi dinamika ekonomi.
Purhedi sempat mengelola hingga 40 karyawan pada masa keemasannya di rentang tahun 2003 hingga 2011.
Kini, ia menjalankan strategi produksi yang lebih ramping guna menyiasati lonjakan harga bahan baku yang kian menekan margin usaha.
Harga canting cap yang menjadi alat utama produksi tercatat melonjak drastis dari Rp350 ribu menjadi Rp1,2 juta per unit.
Beban operasional lainnya, seperti biaya pembelian obat pewarna dan lilin malam, turut mengalami kenaikan harga signifikan.
Di tengah tekanan biaya, Purhedi konsisten menjaga kualitas melalui metode tradisional dengan ketelitian tinggi.
Proses produksi melibatkan teknik pencelupan cap ke cairan lilin panas yang diaplikasikan secara presisi pada kain putih.
Produk kemudian melewati rangkaian tahap pengecatan, pewarnaan dasar, hingga pelorotan dalam air mendidih untuk menghasilkan rona warna yang cerah.
Karya-karya batik tersebut kini mengisi pangsa pasar seragam sekolah serta berbagai busana siap pakai seperti daster, gamis, dan kemeja.
Ketua Koperasi Jasa Bangun Bersama, Nanang Tri Purwanto, menegaskan komitmen pihaknya dalam memperkuat jaringan pemasaran UMKM binaan.
Distribusi produk perajin kini telah menjangkau wilayah yang luas, mencakup pasar di Pulau Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan.
Dukungan nyata dari ekosistem operasional TBIG ini terbukti menjadi energi positif bagi keberlangsungan industri batik di tengah sengitnya persaingan pasar.






