EkonomiRanah

Mendag Soroti Biaya Logistik Ekspor Imbas Konflik Timur Tengah

5866
×

Mendag Soroti Biaya Logistik Ekspor Imbas Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
mendag-ungkap-tantangan-eksportir-akibat-konflik-iran-israel
Mendag Ungkap Tantangan Eksportir Akibat Konflik Iran-Israel

Jakarta – Konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Meskipun demikian, para eksportir mengeluhkan kenaikan biaya logistik akibat eskalasi yang terjadi.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan kepastian ini saat bertemu dengan pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) di Jakarta, Jumat (13/3/2026).

“Itu problemnya, tapi (pengusaha) tetap ekspor,” ujar Budi Santoso, menanggapi keluhan pengusaha.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyatakan, pihaknya masih perlu melakukan kajian lebih lanjut mengenai dampak konflik di Iran terhadap perdagangan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah.

Ateng mencontohkan tiga negara mitra dagang Indonesia yang berada di jalur Selat Hormuz, yaitu Iran, Oman, dan Uni Arab Emirat (UEA).

Berdasarkan data BPS, nilai impor nonmigas Indonesia dari Iran pada tahun 2025 mencapai US$ 8,4 juta, dengan komoditas utama berupa buah-buahan (US$ 5,9 juta), besi dan baja (US$ 0,8 juta), serta mesin dan peralatan mekanis (US$ 0,7 juta).

Ekspor nonmigas Indonesia ke Iran pada tahun yang sama tercatat sebesar US$ 249,1 juta, dengan komoditas utama buah-buahan (US$ 86,4 juta), kendaraan dan bagiannya (US$ 34,1 juta), serta lemak dan minyak hewan nabati (US$ 22 juta).

Untuk perdagangan dengan Oman, nilai impor nonmigas Indonesia pada tahun 2025 mencapai US$ 718,8 juta, didominasi oleh besi dan baja (US$ 590,5 juta), bahan bakar organik (US$ 56,7 juta), serta garam, belerang, batu, dan semen (US$ 44,2 juta).

Ekspor nonmigas Indonesia ke Oman mencapai US$ 428,8 juta, dengan komoditas utama lemak dan minyak hewan nabati (US$ 227,7 juta), kendaraan dan bagiannya (US$ 64,2 juta), serta bahan bakar mineral (US$ 48,1 juta).

Dengan Uni Arab Emirat (UEA), nilai impor Indonesia mencapai US$ 1,4 miliar, terdiri dari logam mulia dan perhiasan (US$ 511,1 juta), garam, belerang, batu, dan semen (US$ 43,2 juta), serta aluminium dan barang daripadanya (US$ 181,6 juta).

Ekspor nonmigas ke UEA pada tahun 2025 tercatat sebesar US$ 4,0 miliar, dengan komoditas utama logam mulia dan perhiasan (US$ 183,6 juta), lemak dan minyak hewan nabati (US$ 510,3 juta), serta kendaraan dan bagiannya (US$ 363,5 juta).

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan dunia, yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan 20-25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global.

Eskalasi gangguan di Selat Hormuz terjadi setelah adanya serangan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker milik Amerika Serikat dan Inggris di Teluk dan Selat Hormuz pada Minggu (1/3/2026). IRGC juga menargetkan instalasi militer AS di Kuwait dan Bahrain.