EkonomiRanah

Pemerintah Siapkan Antisipasi Defisit Akibat Harga Minyak

241
×

Pemerintah Siapkan Antisipasi Defisit Akibat Harga Minyak

Sebarkan artikel ini
purbaya-ungkap-skenario-bila-harga-minyak-us$-92-per-barel
Purbaya Ungkap Skenario Bila Harga Minyak US$ 92 per Barel

Jakarta – Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk meredam dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, kenaikan harga minyak hingga US$92 per barel berpotensi melebarkan defisit APBN hingga 3,6 persen.

“Kami sudah exercise kalau harganya US$ 92 dolar selama setahun rata-rata, kan APBN setahun, maka defisitnya jadi 3,6 persen lebih,” jelas Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Purbaya menegaskan, pemerintah akan berupaya melakukan penghematan pada pos-pos belanja yang dinilai tidak efisien untuk mencegah pelebaran defisit.

Kementerian Keuangan juga telah menyiapkan skenario jika harga minyak naik hingga US$72 per barel, yang menurutnya masih dalam kondisi aman bagi fiskal.

Dalam kondisi normal, harga minyak dunia berada di kisaran US$60 per barel.

Menkeu juga membuka opsi penyesuaian harga BBM jika harga minyak dunia terus melonjak dan membebani anggaran.

Namun, hingga saat ini, pemerintah belum membahas penyesuaian harga BBM bersubsidi karena kondisi anggaran masih dianggap aman.

Lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global, terutama akibat potensi penutupan Selat Hormuz.

Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik hingga US$84 per barel pada Jumat (6/3/2026).

Secara mingguan, harga minyak acuan Amerika Serikat itu melonjak sekitar 21 persen, menjadi kenaikan terbesar sejak 2020.

Harga minyak mentah Brent crude juga mengalami kenaikan, tercatat naik 4,93 persen atau sekitar US$4,01 menjadi US$85,41 per barel.

Purbaya menuturkan, Indonesia pernah mengalami harga minyak dunia menembus US$150 per barel. Meskipun kondisi ekonomi sempat melambat, namun tidak sampai menyebabkan krisis.