Ranah

Tambang Ancam Habitat Primata, Populasi Terus Menyusut

238
×

Tambang Ancam Habitat Primata, Populasi Terus Menyusut

Sebarkan artikel ini
ketika-primata-berdampingan-dengan-tambang
Ketika Primata Berdampingan dengan Tambang

Sibolga – Pemandangan dua ekor Siamang bergelantungan di Hutan Batang Toru, Sibolga, Sumatera Utara, menjadi indikasi positif terjaganya ekosistem hutan. Momen langka ini terjadi pada Kamis (20/11/2025).

Siamang (symphalangus syndactylus) itu terlihat di dahan pohon setinggi 20 meter. Satu di antaranya tampak menggendong anak, sementara yang lain asyik menikmati buah.

Keberadaan Siamang ini dapat disaksikan dari Stasiun Riset Bidang Lingkungan Hutan Tropis dan Keanekaragaman Hayati. Stasiun ini dibangun oleh PT Agincourt Resources (PTAR) di kawasan konservasi Hutan Batang Toru.

PTAR, pengelola kawasan Kontrak Karya pertambangan emas Martabe, bekerja sama dengan Biodiversity Advisory Panel (BAP) dalam pengelolaan stasiun riset. BAP bertugas menganalisa perlindungan lingkungan dan keanekaragaman hayati di wilayah pertambangan Martabe.

“Anda sangat beruntung bisa melihat mereka. Jarang sekali mereka bisa terlihat di siang hari,” ujar Anggota BAP Agincourt Resources Sri Suci Utami Atmoko.

Selain Siamang, Batang Toru juga menjadi rumah bagi primata lain seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Cek-cek (Presbytis Sumatrana), dan Orang Utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Menurut Suci, populasi Orang Utan Tapanuli di Batang Toru hanya tersisa 17 ekor. Keberadaan stasiun riset menjadi penting untuk penelitian, pemantauan, dan perlindungan satwa langka.

Stasiun Riset Keanekaragaman Hayati Martabe beroperasi sejak Februari 2025. Fasilitas ini dilengkapi menara pemantau dan kamera untuk merekam pergerakan satwa. Pembangunannya menelan biaya Rp 10 miliar, belum termasuk biaya operasional tahunan.

Wakil Presiden Direktur PTAR Ruli Tanio menyatakan, stasiun riset ini adalah komitmen perusahaan untuk mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan konservasi.

PTAR mengoperasikan tambang seluas 635 hektare dengan cadangan 6,1 juta ounce emas dan 59 juta ounce perak. Tambang ini bagian dari konsesi Kontrak Karya seluas 130.252 hektare.

Pada Februari 2025, Walhi bersama organisasi lain menolak ekspansi tambang Martabe. Mereka khawatir akan dampak lingkungan di ekosistem Batang Toru.

Direktur Walhi Sumatera Utara Rianda Purba menyebut, deforestasi telah meluas hingga lebih dari 114 hektare di sekitar tambang dalam 15 tahun terakhir.

Menanggapi penolakan tersebut, Ruli Tanio menyatakan PTAR telah mengupayakan berbagai strategi untuk menjamin kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan menetapkan kawasan konservasi yang lebih luas dari area tambang.

PT Agincourt Resources menetapkan 2.000 hektare wilayah sebagai kawasan “biodiversity refugia” yang akan dikelola dalam jangka panjang. PTAR juga menggarap nursery atau fasilitas penyemaian bibit tanaman untuk merehabilitasi lahan bekas tambang.