Padang – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas menginisiasi penguatan etika jurnalistik di era disrupsi kecerdasan buatan (AI).
Langkah tersebut diwujudkan melalui diskusi bertajuk “Artificial Intelligence for Journalism and Gender Sensitive Reporting” yang berlangsung pada Rabu (1/7/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi kalangan mahasiswa dan praktisi media untuk mengasah kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Rinaldi, narasumber dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa kecakapan mengoperasikan perangkat digital telah menjadi keharusan bagi setiap insan pers.
Penguasaan teknologi dinilai krusial agar jurnalis mampu mengoptimalkan peran AI secara bertanggung jawab di lapangan.
Dekan FISIP Universitas Andalas, Jendrius, menegaskan komitmen institusinya dalam memadukan riset dan literasi media sebagai fondasi utama pendidikan.
Komitmen tersebut telah diimplementasikan melalui program pemberdayaan literasi digital bagi masyarakat di kawasan Batang Barus, Kabupaten Solok.
Kendati AI menawarkan kemudahan dalam pengolahan data serta produksi konten, Rinaldi mengingatkan bahwa kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik tetap mutlak.
Ia menggarisbawahi berbagai risiko etis yang membayangi, mulai dari bias algoritma, minimnya transparansi, pelanggaran hak cipta, hingga ancaman otomatisasi lapangan kerja.
Para jurnalis dituntut memiliki ketajaman analisis guna membedakan misinformasi, disinformasi, serta malinformasi agar terhindar dari penyebaran konten menyesatkan.
Workshop ini turut mengenalkan alat verifikasi konten mutakhir seperti Istitai AI Image Detector dan Wasit AI sebagai pendukung kerja jurnalistik.
Namun, Rinaldi memperingatkan adanya keterbatasan pada teknologi pendeteksi AI akibat teknik manipulasi yang kian canggih dan potensi ketidakakuratan hasil.
Sinergi lintas disiplin ilmu dan literasi masyarakat luas menjadi kunci utama untuk menjaga pemanfaatan teknologi agar tetap berpijak pada nilai-nilai etika.
FISIP Universitas Andalas berharap rangkaian kegiatan ini mampu mencetak jurnalis masa depan yang adaptif, kritis, serta memiliki kepekaan tinggi terhadap isu gender.






