EkonomiRanah

Garuda Indonesia Berhasil Tekan Kerugian Hingga Rp3 Triliun

245
×

Garuda Indonesia Berhasil Tekan Kerugian Hingga Rp3 Triliun

Sebarkan artikel ini
kerugian-garuda-indonesia-menukik-jadi-rp3-triliun-hingga-kuartal-iii-2025
Kerugian Garuda Indonesia Menukik Jadi Rp3 Triliun hingga Kuartal III 2025

Jakarta – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) kembali mencatatkan kerugian. Hingga kuartal III 2025, maskapai pelat merah ini merugi US$ 180,7 juta atau setara Rp 3 triliun.

Kerugian ini melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Saat itu, Garuda mencatatkan rugi US$ 129,6 juta atau Rp 2,1 triliun.

Laporan keuangan yang dirilis di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (31/10/2025) menunjukkan pendapatan usaha Garuda mencapai US$ 2,3 miliar atau Rp 38,3 triliun.

Namun, pendapatan ini juga mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang mencapai Rp 41,6 triliun.

Pendapatan Garuda disumbang dari penerbangan berjadwal sebesar US$ 1,8 miliar atau Rp 29,9 triliun, penerbangan tidak berjadwal (charter) US$ 299,5 juta, dan pendapatan lainnya sebesar US$ 245,8 juta.

Beban usaha Garuda tercatat sebesar US$ 2,2 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 2,3 miliar.

Hingga 30 September 2025, total aset Garuda tercatat sebesar US$ 6,7 miliar. Namun, ekuitas Garuda tercatat minus US$ 1,5 miliar, dengan liabilitas mencapai US$ 8,2 miliar.

Pada semester I 2025, Garuda juga telah mencatatkan kerugian sebesar US$ 142,8 juta atau Rp 2,3 triliun, lebih besar dari kerugian pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,6 triliun.

Di tengah kabar kurang sedap ini, ada angin segar. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan menyuntikkan modal sebesar US$ 1,8 miliar atau setara Rp 29,8 triliun pada akhir tahun ini.

Dana tersebut akan cair setelah mendapat persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu, 12 November 2025.

Dalam RUPSLB tersebut, manajemen juga akan meminta persetujuan untuk mengalihkan 50 persen jumlah kekayaan bersih untuk pemindahtanganan dan penghapusbukuan aset berupa pesawat, unused pesawat, Low Value Asset (LVA), dan Unit Load Device (ULD).

Selain itu, manajemen juga akan meminta persetujuan atas rencana jangka panjang perusahaan (RJPP) Garuda Indonesia.

Penambahan modal ini dilakukan karena Garuda diperkirakan belum membukukan ekuitas positif hingga November 2025. Kondisi ini dapat menghambat akses pendanaan dan memicu potensi delisting dari Bursa Efek Indonesia.

Garuda juga tertekan oleh biaya perawatan dan restorasi pesawat yang menurunkan kinerja perseroan maupun anak usahanya, Citilink.

Dari dana Rp 29,8 triliun tersebut, Garuda Indonesia akan mengalokasikan 29 persen untuk biaya perawatan dan perbaikan pesawat, 37 persen untuk peningkatan modal ke Citilink, 22 persen untuk ekspansi armada Garuda dan Citilink, dan 12 persen untuk membayar utang ke PT Pertamina (Persero) atas pembelian bahan bakar avtur.