Ranah

Gen Z Bentuk Gaya Hidup, Apa yang Berubah?

207
×

Gen Z Bentuk Gaya Hidup, Apa yang Berubah?

Sebarkan artikel ini
gen-z,-waspadalah!
Gen Z, Waspadalah!

Jakarta – Generasi Z (Gen Z) kini semakin aktif menggunakan perangkat privasi online. Ironisnya, tren ini justru berpotensi menjadikan mereka sasaran empuk bagi para penjahat siber.

Kaspersky mencatat adanya peningkatan signifikan dalam serangan siber yang menargetkan pengguna VPN. Lebih dari 15 juta percobaan serangan siber yang menyamar sebagai aplikasi VPN terdeteksi antara Oktober 2024 hingga September 2025.

Alih-alih melindungi, VPN palsu atau hasil retasan justru seringkali menyebarkan malware dan perangkat lunak berbahaya.

Mulai dari pengunduh (downloader), adware, hingga trojan yang mampu mencuri data dan memberikan akses jarak jauh kepada penyerang.

Penelitian menunjukkan, Gen Z menggunakan VPN, perangkat enkripsi, peramban anonim, dan teknologi peningkatan privasi lainnya dua kali lebih sering dibandingkan kelompok usia yang lebih tua.

Tumbuh di era kebocoran data dan pelacakan algoritmik membuat mereka lebih sadar akan rentannya privasi online.

VPN dan peramban anonim dianggap penting untuk melindungi data pribadi, identitas online, dan mengamankan penggunaan Wi-Fi publik.

Namun, pergeseran ini membawa bahaya tersembunyi. Banyak pengguna muda beralih ke aplikasi VPN gratis, hasil crack, atau palsu.

Alat-alat ini tampak melindungi, namun justru menempatkan mereka pada risiko yang jauh lebih besar.

Selama periode pengamatan, ancaman paling umum yang menargetkan pengguna didominasi oleh tiga kategori malware dan perangkat lunak yang tidak diinginkan.

Adware memimpin dengan 284.261 kasus. Terus meresahkan pengguna melalui iklan yang mengganggu, pengalihan yang tidak diinginkan, dan pelacakan agresif.

Trojan menyusul dengan 234.283 deteksi. Menimbulkan bahaya serius karena kemampuannya mencuri data dan memungkinkan kendali jarak jauh penuh atas sistem yang terinfeksi.

Ancaman tipe pengunduh (downloader) berada di peringkat ketiga dengan 197.707 kasus terdeteksi. Mencerminkan peran mereka sebagai titik masuk utama untuk memasang muatan berbahaya tambahan pada perangkat korban.

Peneliti Kaspersky juga menemukan halaman phishing yang meniru portal masuk untuk layanan VPN ternama.

Situs-situs ini menipu pengguna agar memasukkan kredensial mereka. Sehingga berisiko kehilangan akses ke akun VPN, dan berpotensi kehilangan akses ke banyak akun lainnya jika kata sandi yang sama digunakan berulang kali di berbagai platform.