Jakarta – Penjualan kendaraan listrik (EV) di Indonesia melonjak tajam. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan mencapai 97 persen.
Hyundai Motors Indonesia (HMID) menilai, peningkatan signifikan ini menandakan pasar EV di Tanah Air memasuki fase yang semakin matang.
“Pasar EV kita mengalami lonjakan hingga hampir 100 persen secara year-on-year,” ujar Chief Operating Officer HMID, Fransiscus Soerjopranoto, dalam keterangan tertulis, Rabu (31/12/2025).
Fransiscus menambahkan, data dari GAIKINDO per November 2025 membuktikan bahwa volume pasar EV telah terbentuk.
Namun, Fransiscus menyoroti pertumbuhan yang belum merata di semua segmen.
Menurutnya, segmen entry-level yang sensitif terhadap harga masih mendominasi kontribusi pertumbuhan pasar EV.
Kondisi ini memicu persaingan yang semakin ketat di pasar kendaraan listrik nasional.
Di tengah persaingan tersebut, Hyundai mencatat performa stabil pada model-model tertentu.
“Penjualan IONIQ 5 dan All New KONA Electric, khususnya varian tertinggi Signature Extended, tetap stabil,” ungkap Fransiscus.
Ia menambahkan, kedua model tersebut memiliki basis pelanggan yang loyal.
Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen semakin mempertimbangkan faktor kualitas rancang bangun, keamanan baterai, serta jaminan layanan purna jual.
Fransiscus menekankan bahwa harga bukan satu-satunya faktor penentu daya saing mobil listrik.
Hyundai, kata dia, berfokus pada pengembangan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi dari hulu ke hilir.
Tujuannya adalah membangun kepercayaan konsumen dan pengalaman kepemilikan yang berkelanjutan.
Perusahaan otomotif asal Korea Selatan itu juga mengapresiasi kebijakan insentif pemerintah dalam mendorong pasar kendaraan listrik.
Namun, Hyundai menilai penguatan struktur industri tetap diperlukan agar pertumbuhan dapat berkelanjutan.
Sebagai wujud komitmen terhadap pengembangan ekosistem EV, Hyundai telah berinvestasi dalam pembangunan pabrik sistem dan sel baterai di Indonesia.
Fransiscus menambahkan, dengan tingkat TKDN yang tinggi pada All New KONA Electric, Hyundai memiliki kendali yang lebih baik terhadap rantai pasok dan struktur biaya.
Hal ini membuat perusahaan berada pada posisi yang relatif lebih kuat jika terjadi penyesuaian kebijakan insentif.






