Jakarta – Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mendesak pemerintah untuk memprioritaskan penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai dana cadangan guna mengantisipasi potensi pelebaran defisit APBN 2026. Langkah ini dinilai jauh lebih krusial dibandingkan menyuntikkan dana ke sektor perbankan.
Bhima memproyeksikan APBN membutuhkan tambahan anggaran hingga Rp 126 triliun untuk menambal subsidi energi jika harga minyak dunia melonjak ke kisaran US$ 90-110 per barel.
“Pemerintah bisa mengambil dari SAL dibandingkan melakukan efisiensi anggaran yang esensial. Jika SAL sudah disalurkan menjadi kredit dan berputar, akan terjadi ketidakcocokan saat pemerintah membutuhkan tambahan anggaran mendesak,” ujar Bhima, Jumat (27/3/2026).
Ia menilai rencana pemerintah menyuntikkan dana SAL sebesar Rp 100 triliun ke perbankan tidak menyasar akar permasalahan ekonomi saat ini. Menurutnya, kendala utama penyaluran kredit bukan terletak pada likuiditas perbankan, melainkan rendahnya permintaan pasar.
Data per Januari 2






