Jakarta – Komisi VI DPR RI mendesak Perum Bulog untuk tidak sekadar menumpuk stok komoditas di dalam gudang demi menjaga ketahanan pangan nasional.
Anggota Komisi VI DPR RI, Rahmat Saleh, menekankan bahwa pemerintah wajib menjamin penyerapan hasil panen petani dan nelayan secara optimal.
Langkah ini krusial guna mencegah anjloknya harga di tingkat produsen saat terjadi lonjakan produksi.
Pernyataan tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja Komisi VI DPR RI ke kantor pusat Perum Bulog di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Rahmat mengingatkan bahwa ketidakpastian pasar saat pasokan melimpah menjadi ancaman serius bagi pendapatan para pelaku sektor pangan.
“Bukan hanya memastikan stok pangan tersedia, tetapi bagaimana hasil produksi petani dan nelayan juga bisa terserap dengan baik,” tegas Rahmat di hadapan Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani.
Kegagalan dalam menyerap hasil panen berisiko membuat biaya produksi tidak tertutup dan memicu kerugian bagi petani.
Selain itu, sistem penyerapan yang tidak optimal meningkatkan potensi terbuangnya komoditas pangan yang bersifat mudah rusak.
Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengganggu keberlanjutan produksi pangan nasional dalam jangka panjang.
Rahmat mendesak Bulog memaksimalkan penyerapan komoditas strategis, mulai dari beras, jagung, kedelai, hingga daging dan telur.
Selain penyerapan, ia menyoroti urgensi stabilisasi harga dan penguatan infrastruktur distribusi agar hasil panen mengalir efisien ke pasar.
Sinergi lintas sektor antara pemerintah, BUMN, koperasi, dan pelaku usaha harus diperkuat melalui integrasi data pangan.
“Data yang terintegrasi penting supaya pengadaan dan penyaluran bisa lebih efektif,” ujar Rahmat.
Sistem pangan yang sehat harus mampu memberikan kepastian pasar serta penghasilan yang layak bagi para produsen pangan di seluruh tanah air.






