Lubuk Basung – Upaya memperkuat perlindungan perempuan dan anak di Kabupaten Agam didorong melalui pelibatan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan unsur keluarga dalam satu forum dialog interaktif penguatan ketahanan keluarga yang digelar di Aula Bappeda Kabupaten Agam, Rabu (22/4).
Kegiatan itu diikuti 72 peserta dari unsur tokoh masyarakat, Bundo Kanduang, PKK, dan aktivis perlindungan anak. Hadir pula Kepala Dinas Dalduk KB, PP dan PA Kabupaten Agam, Surya Wendri.
Ketua panitia pelaksana, Desra Elena, mengatakan kegiatan ini digelar karena tantangan perlindungan perempuan dan anak kian kompleks. Menurut dia, persoalan tersebut kini tidak hanya muncul di ranah domestik, tetapi juga merambah ruang digital.
“Fenomena seperti kekerasan berbasis gender online, pola pengasuhan yang belum adaptif terhadap perkembangan zaman, serta lemahnya ketahanan keluarga menjadi perhatian bersama yang harus direspon secara kolaboratif,” ujarnya.
Ia menambahkan, forum ini bertujuan meningkatkan pemahaman tokoh masyarakat tentang pentingnya ketahanan keluarga, mendorong peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanganan kasus, serta memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan lembaga layanan.
Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi Sumatera Barat, dr. Herlin Sridiani, M.Kes, menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Ia menyebut seluruh elemen masyarakat harus terlibat.
“Sudahkah lingkungan kita menjadi ruang yang aman bagi perempuan dan anak? Pertanyaan ini penting sebagai refleksi bersama bahwa upaya pencegahan kekerasan harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga,” ungkapnya.
Herlin mengatakan keluarga memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mencegah kekerasan. Namun di era digital, tantangan yang dihadapi semakin beragam, mulai dari kekerasan fisik dan psikis, kekerasan berbasis gender di ruang digital, hingga paparan konten negatif bagi anak.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang adaptif dan kolaboratif dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau. Dalam konteks ini, peran Bundo Kanduang, ninik mamak, dan tokoh masyarakat dinilai sangat vital untuk membangun ketahanan keluarga.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, lanjutnya, terus mendorong berbagai program perlindungan perempuan dan anak, termasuk melalui gerakan “Pantau Sumbar 2045” sebagai bagian dari visi menciptakan generasi yang terlindungi dan berdaya saing.
Melalui kegiatan ini, diharapkan muncul komitmen bersama serta langkah nyata di tingkat nagari hingga kabupaten/kota untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, sekaligus memperkuat peran keluarga dalam pengasuhan yang positif.
Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi Sumatera Barat kemudian resmi membuka kegiatan tersebut dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Ia berharap sinergi yang terbangun dapat terus berlanjut demi menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi perempuan dan anak.






