Ranah

Dewan Kritik Pinjaman Danantara, Garuda Terancam Gagal Bayar?

235
×

Dewan Kritik Pinjaman Danantara, Garuda Terancam Gagal Bayar?

Sebarkan artikel ini
anggota-dewan-kaget-soal-pinjaman-danantara-untuk-garuda-indonesia
Anggota Dewan Kaget soal Pinjaman Danantara untuk Garuda Indonesia

Jakarta – Komisi VI DPR RI menyoroti pinjaman yang diberikan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Anggota Komisi VI DPR, Mufti Anam, menekankan agar pinjaman tersebut harus dipastikan sebagai utang yang wajib dibayar.

Mufti Anam juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan dan pengawasan dana pinjaman secara akuntabel. Ia mengaku terkejut dengan adanya pinjaman ini, sebab menurutnya, Danantara tidak melibatkan Komisi VI DPR yang memiliki wewenang dalam urusan BUMN.

“Danantara dengan sembrono memberikan pinjaman sebegitu besar ke Garuda Indonesia di tengah keraguan publik atas kehadirannya,” kata Mufti kepada awak media, Rabu (2/7/2025).

Pinjaman senilai maksimal Rp 6,65 triliun ini berbentuk shareholder loan atau pinjaman dari pemegang saham yang berasal dari Danantara Asset Management, perusahaan holding milik Danantara. Pencairan akan dilakukan secara bertahap, tergantung pada proses pengajuan.

Mufti menilai, meski terkejut, pinjaman ini dapat menjadi momentum emas bagi Garuda untuk memperbaiki kinerja keuangannya. “Kalau gagal, publik akan kehilangan kepercayaan yang sudah sangat tipis,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan kembali suntikan modal dari pemerintah yang pernah diterima Garuda pada 2022. “Dana itu hanya bertahan dalam hitungan bulan, lalu lenyap tanpa dampak signifikan ke fundamental perusahaan,” katanya.

Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa pinjaman ini merupakan bagian dari upaya restrukturisasi dan transformasi Garuda. Dony menegaskan, pada Kamis (26/6/2025), Garuda bukan sekadar entitas bisnis, melainkan simbol kedaulatan udara dan kebanggaan nasional. “Kami bukan sekadar memberikan pendanaan, namun hadir sebagai pemegang saham dengan mandat yang jelas dan pendekatan institusional,” kata Dony dalam pernyataan resmi.

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, menjelaskan tekanan yang dihadapi industri penerbangan. Dalam konferensi infrastruktur internasional, 11 Juni 2025, Wamildan menyebutkan bahwa kenaikan harga avtur, biaya perawatan, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi nilai tukar menjadi beban utama. “Biaya, biaya, dan biaya,” kata Wamildan.

Wamildan menilai pinjaman dari Danantara dapat memperkuat kapabilitas operasional Garuda. Menurutnya, keberhasilan pemulihan tidak hanya bergantung pada dukungan finansial, tetapi juga membutuhkan komitmen perusahaan dan dukungan dari berbagai pihak. “Sehingga memperkokoh posisi Garuda Indonesia sebagai maskapai kelas dunia,” ujar dia.