Washington DC – Pemerintah Indonesia siapkan tiga jurus atasi ancaman ekonomi global dan inflasi. Langkah ini diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di sela pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia.
Perry menjelaskan, strategi utama adalah bauran kebijakan yang harmonis antara moneter, fiskal, dan stabilitas keuangan.
Langkah kedua, pemerintah fokus pada reformasi struktural untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hilirisasi sumber daya alam, digitalisasi, inklusi keuangan, dan penciptaan lapangan kerja menjadi prioritas.
Ketiga, pemerintah perkuat kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara ASEAN serta mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Cina, Jepang, India, dan Eropa.
“Multilateralisme jauh lebih efektif dibanding unilateralisme dalam mendorong pertumbuhan ekonomi global dan mengatasi ketidakseimbangan,” tegas Perry dalam siaran pers, Jumat (18/10/2025).
Dalam pertemuan tersebut, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral sepakat menyusun agenda kebijakan global.
Agenda ini bertujuan menjaga stabilitas dan memperkuat resiliensi pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi.
IMF merekomendasikan empat arah kebijakan utama bagi setiap negara.
Pertama, pengelolaan keuangan negara jangka menengah yang lebih hati-hati untuk memperkuat ketahanan fiskal.
Kedua, bank sentral perlu menjaga stabilitas harga dengan tetap menjaga independensi dan transparansi.
Ketiga, kebijakan di sektor keuangan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi risiko pasar.
Keempat, reformasi struktural diarahkan untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan melalui perbaikan iklim usaha.
Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Mohammed Aljadaan menambahkan, ekonomi global saat ini sedang bertransformasi dan menghadapi ketidakpastian.
“Pertumbuhan ekonomi tetap tangguh, tetapi tekanan mulai muncul. Kami akan mengadopsi kebijakan yang tepat yang menumbuhkan kepercayaan, membangun ketahanan, dan menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan,” ujar Aljadaan, Kamis (17/10/2025).






