Ranah

BI Perkuat Intervensi Saat Rupiah Tertekan

75
×

BI Perkuat Intervensi Saat Rupiah Tertekan

Sebarkan artikel ini
bi-sudah-siapkan-langkah-jaga-stabilitas-rupiah
BI Sudah Siapkan Langkah Jaga Stabilitas Rupiah

Bandung – Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global, setelah dolar Amerika Serikat menguat hampir terhadap seluruh mata uang dunia.

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juli Budi Winantya, mengatakan tekanan terhadap rupiah muncul karena derasnya arus modal ke Amerika Serikat. Arus tersebut ikut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury, di saat defisit fiskal Negeri Paman Sam memburuk.

“Apresiasi dolar terjadi relatif terhadap hampir semua mata uang dunia,” ujar Juli dalam diskusi dengan media di Bandung, Jumat, 24 April 2026.

Pada Kamis, 23 April 2026, pukul 09.50 WIB, rupiah sempat melemah hingga menyentuh level 17.307 per dolar AS. Namun pada Jumat sore, mata uang Garuda berbalik menguat ke posisi Rp 17.229, atau naik 57 poin dibandingkan penutupan Kamis sore di Rp 17.286.

Juli menjelaskan, defisit fiskal Amerika Serikat kian melebar akibat meningkatnya belanja perang. Berdasarkan perkiraan Center for Strategic and International Studies (CSIS), biaya perang Iran telah melampaui US$ 20 miliar.

Untuk meredam tekanan di pasar, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen. Kebijakan itu ditempuh sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, BI juga terus melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Bank sentral turut memperluas operasi moneter valas melalui transaksi swap.

“Itu diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah,” kata Juli.