Jakarta – Masyarakat Indonesia dapat bernapas lega. Perum Bulog memastikan stok beras nasional aman hingga Lebaran 2026.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani.
Rizal menyebutkan, per 8 Januari 2026, stok beras mencapai 3.351.900 ton.
“Kesiapan stok ini untuk menghadapi Imlek dalam waktu dekat, Ramadan, kemudian Lebaran,” ujar Rizal dalam konferensi pers di kantor BNPB, Jumat (9/1/2026).
Dari total stok tersebut, 3.238.103 ton merupakan beras jenis public service obligation (PSO). Sementara 113.797 ton merupakan beras komersial.
Rizal merinci, stok beras terbesar berada di Jawa Timur dengan jumlah 806.248 ton.
Kemudian disusul Sulawesi Barat dengan 565.587 ton, Jawa Barat 526.867 ton, dan Jakarta 249.668 ton.
Bulog menargetkan penyerapan hingga 4 juta ton pada 2026. Dengan demikian, total cadangan beras pemerintah mencapai sekitar 7 juta ton.
Prioritas utama stok beras ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Namun, Rizal membuka peluang ekspor ke negara tetangga seperti Timor Leste, Papua Nugini, atau Malaysia jika memungkinkan.
Ekspor ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tidak lagi melakukan impor beras konsumsi mulai 2026.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada beras sejak Desember 2025.
Rizal mengklaim puncak swasembada beras pada 2025 terjadi setelah Bulog mampu menampung 4,5 juta ton Gabah Kering Panen (GKP) pada Juli 2025.
Ia berharap swasembada beras dapat terus berlanjut demi kesejahteraan negara.
Rizal juga mencita-citakan harga beras yang seragam di seluruh Indonesia melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Ia mencontohkan, program ini serupa dengan harga BBM yang diberlakukan Pertamina.






