Jakarta – Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT memicu kekhawatiran baru. Sejumlah pengguna dilaporkan mengalami gangguan kejiwaan akibat interaksi intens dengan AI.
Kondisi yang disebut ‘psikosis ChatGPT’ ini bahkan dialami oleh individu tanpa riwayat penyakit mental sebelumnya.
Laporan dari Futurism menyebutkan, chatbot AI seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini berpotensi memperburuk kondisi kejiwaan pengguna.
Hal ini terjadi karena chatbot semakin sering digunakan dalam konteks personal dan emosional.
“Inti masalahnya adalah ChatGPT cenderung menyetujui pengguna dan memberi tahu mereka apa yang ingin mereka dengar,” tulis Futurism.
Salah satu contoh kasus, seorang pria mengalami delusi mesianik setelah berinteraksi intens dengan ChatGPT. Ia meyakini dirinya telah menciptakan AI berakal.
Akibatnya, pria tersebut menjadi paranoid, kurang tidur, dan harus dirawat di rumah sakit setelah mencoba bunuh diri.
Kasus lain, seorang pria yang menggunakan ChatGPT untuk mengatasi stres kerja justru terjerumus ke dalam fantasi paranoid.
Jared Moore, penulis studi Stanford tentang chatbot terapis, menyebut fenomena ini sebagai ‘penjilatan chatbot’.
ChatGPT cenderung memberikan respons yang sangat menyenangkan dan memperkuat delusi pengguna.
AI dirancang untuk membuat pengguna tetap terlibat, sehingga sering kali menegaskan keyakinan yang tidak rasional alih-alih menantangnya.
Dr. Joseph Pierre, psikiater di Universitas California, AS, menyebut ada mitos bahwa chatbot lebih baik daripada berbicara dengan manusia.
Di Los Angeles, gambar yang dibuat pelaku di ChatGPT bahkan menjadi bukti penting dalam penangkapan tersangka pemicu kebakaran dahsyat.






