Ranah

Danantara Genjot Hilirisasi Peternakan Kejar Potensi Pendapatan Negara

250
×

Danantara Genjot Hilirisasi Peternakan Kejar Potensi Pendapatan Negara

Sebarkan artikel ini
danantara:-indonesia-kehilangan-potensi-pendapatan-rp-300-t-karena-ekspor-bahan-mentah
Danantara: Indonesia Kehilangan Potensi Pendapatan Rp 300 T karena Ekspor Bahan Mentah

Jakarta – Badan Pengelola Investasi Danantara memproyeksikan potensi kehilangan pendapatan negara mencapai Rp 300 triliun akibat dominasi ekspor produk peternakan dalam bentuk bahan mentah. Kondisi ini dinilai menghambat upaya hilirisasi yang seharusnya mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional.

Direktur Badan Pengelola Investasi Danantara, Lucky Lukman Nurrahmat, mengungkapkan bahwa sekitar 20 persen produk peternakan Indonesia saat ini masih diekspor tanpa melalui proses pengolahan. Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi peluang investasi sektor peternakan di gedung BRIN, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Lucky memetakan empat peluang strategis untuk memaksimalkan sektor peternakan nasional. Pertama, target swasembada pangan pada 2029. Ia mencatat, Indonesia masih mengeluarkan biaya sekitar Rp 10 miliar per tahun untuk impor pangan, yang menjadi celah untuk memperkuat produksi domestik.

Kedua, pertumbuhan permintaan domestik yang diproyeksikan meningkat 5-7 persen per tahun, sehingga memicu kebutuhan protein yang lebih tinggi. Ketiga, potensi ekspor regional di kawasan ASEAN yang diperkirakan mencapai US$ 800 miliar pada 2030. Untuk merebut pasar tersebut, Indonesia perlu meningkatkan teknologi dan kapasitas produksi.

Keempat, optimalisasi ekspor melalui hilirisasi yang selama ini belum berjalan maksimal.

Dalam kesempatan itu, Lucky menyoroti sektor unggas sebagai salah satu fokus utama. Meski Indonesia menempati peringkat kelima produsen ayam broiler dunia dengan produksi 3,5 juta ton per tahun, penetrasi ekspor Indonesia masih tertahan di angka 2 persen. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Thailand yang mampu menguasai 40 persen dari pasar ekspor unggas dunia senilai US$ 9 miliar.

Guna mendukung sektor ini, Danantara tengah menggarap proyek peternakan terpadu. Proyek tersebut dirancang untuk membangun rantai pasok unggas yang mencakup day old chicken (DOC) dan grandparent stock (GPS).

Lucky menambahkan, Danantara telah merealisasikan sejumlah peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek peternakan tersebut sepanjang kuartal kesatu tahun 2026.

Jakarta – Badan Pengelola Investasi Danantara memproyeksikan potensi kehilangan pendapatan negara mencapai Rp 300 triliun. Kerugian ini dipicu oleh dominasi ekspor produk sektor peternakan yang masih berbentuk bahan mentah.

Direktur Badan Pengelola Investasi Danantara, Lucky Lukman Nurrahmat, menyatakan bahwa sekitar 20 persen produk peternakan Indonesia saat ini masih diekspor tanpa melalui proses hilirisasi. Kondisi ini menghambat upaya pemerintah dalam memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Lucky menyampaikan hal tersebut dalam diskusi peluang investasi sektor peternakan di gedung BRIN, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Menurut Lucky, terdapat empat peluang strategis untuk memaksimalkan sektor peternakan. Pertama, target swasembada pangan pada 2029. Ia mencatat, Indonesia masih mengeluarkan biaya impor pangan sekitar Rp 10 miliar per tahun yang menjadi celah untuk memperkuat produksi domestik.

Kedua, pertumbuhan permintaan domestik yang diproyeksikan naik 5-7 persen per tahun, sehingga memicu kebutuhan protein yang lebih tinggi. Ketiga, potensi ekspor regional di kawasan ASEAN yang diperkirakan mencapai US$ 800 miliar pada 2030. Untuk merebut pasar tersebut, Indonesia perlu meningkatkan teknologi dan kapasitas produksi.

Keempat, optimalisasi ekspor melalui hilirisasi yang selama ini belum berjalan maksimal.

Dalam kesempatan itu, Lucky menyoroti sektor unggas. Meskipun Indonesia menempati peringkat kelima produsen ayam broiler dunia dengan produksi 3,5 juta ton per tahun, penetrasi ekspor Indonesia masih tertahan di angka 2 persen. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Thailand yang mampu menguasai 40 persen dari pasar ekspor unggas dunia senilai US$ 9 miliar.

Guna mendukung sektor ini, Danantara tengah menggarap proyek peternakan terpadu. Proyek tersebut dirancang untuk membangun rantai pasok unggas yang mencakup day old chicken (DOC) dan grandparent stock (GPS).

Lucky menambahkan, Danantara telah merealisasikan sejumlah peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek peternakan tersebut sepanjang kuartal kesatu tahun 2026.