Padang – Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif pada triwulan III 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka pertumbuhan mencapai 5,04 persen.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, ada perubahan signifikan dalam faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan tersebut.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyoroti pergeseran peran konsumsi masyarakat.
“Konsumsi masyarakat masih menopang PDB, tetapi tidak lagi menjadi penggerak utama,” ujar Syafruddin.
Data BPS menunjukkan, konsumsi yang berkontribusi 53,14 persen terhadap PDB, tumbuh melambat menjadi 4,89 persen. Tahun lalu, angka pertumbuhan konsumsi mencapai 4,91 persen.
Syafruddin menjelaskan, masyarakat kini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dan layanan. Sementara itu, pembelian barang tahan lama cenderung ditunda.
“Belanja tahan lama cenderung ditunda sampai persepsi risiko dan bunga kredit membaik,” katanya.
Lantas, apa yang menjadi mesin penggerak ekonomi saat ini?
Syafruddin mengungkapkan, ekspor barang dan jasa menjadi pendorong utama. Hal ini didukung oleh pemulihan volume ekspor, peningkatan sektor pariwisata, dan kelancaran rantai pasok.
Investasi juga turut berperan, seiring dengan realisasi proyek hilirisasi, energi, dan logistik. Kondisi ini meningkatkan permintaan terhadap bahan bangunan, alat angkut, dan jasa konstruksi.
“Fiskal menahan pelemahan melalui layanan pendidikan dan kesehatan serta belanja infrastruktur yang menjaga arus pendapatan ke rumah tangga,” imbuhnya.
Data BPS juga mencatat perlambatan pada komponen lain yang berkontribusi terhadap PDB. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) misalnya, turun dari 5,16 persen menjadi 5,04 persen.
Namun, belanja pemerintah justru mengalami kenaikan, dari 4,62 persen menjadi 5,49 persen.
Ekspor menjadi sektor dengan pertumbuhan paling signifikan, mencapai 9,91 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, ekspor hanya tumbuh 8,79 persen.
“Ketika ekspor melompat dan impor tumbuh lebih lambat, sumbangan neto ekspor ke PDB menjadi positif dan dapat menutup pelambatan konsumsi,” jelas Syafruddin.
Belanja pemerintah di sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur juga memberikan dorongan tambahan. Perubahan persediaan juga berpotensi menjadi penambah saat industri melakukan pengisian kembali stok.
Kombinasi faktor-faktor inilah yang memungkinkan pertumbuhan PDB melampaui 5 persen, meskipun konsumsi rumah tangga yang memiliki porsi terbesar berada di bawah angka tersebut.






