Lubuk Basung – Pemerintah Kabupaten Agam mengambil langkah strategis untuk mendongkrak perekonomian daerah melalui kerjasama multipihak. Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap tantangan globalisasi dan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Pelaksana tugas (Plt) Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Agam, Welfizar, mengungkapkan hal tersebut saat membuka workshop pembahasan rancangan rencana dasar kemitraan multipihak, Rabu (20/8/2025).
Welfizar menjelaskan, penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menjadi salah satu alasan utama perlunya strategi baru. Ia menyebutkan, PDRB Kabupaten Agam mengalami penurunan dari 30 persen pada 2019 menjadi 28,26 persen pada 2024, yang diperparah oleh bencana galodo tahun lalu.
Selain itu, Welfizar menyoroti fluktuasi tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Agam. “Tercatat 4,61 persen pada 2020, meningkat menjadi 4,73 persen pada 2024. Persentase terbesar berasal dari tenaga kerja terdidik,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi ini menggarisbawahi pentingnya peningkatan resiliensi lingkungan dan masyarakat melalui kebijakan penerapan ekonomi hijau dan ekonomi biru. Hal ini bertujuan mendorong transformasi ekonomi berkelanjutan serta peningkatan sektor ekonomi kreatif.
Welfizar menambahkan, “Kebijakan ini sudah diimplementasikan melalui berbagai program unggulan, seperti Nagari Creative Hub dan Bangkik dari Surau yang mengintegrasikan nilai agama dan ekonomi.”
Program Sawah Pokok Murah (SPM), lanjutnya, juga merupakan wujud nyata implementasi kebijakan tersebut, bersama sejumlah program unggulan lainnya.
“Seluruh kebijakan dan program itu sudah tertuang dalam dokumen RPJMD Kabupaten Agam 2025-2029,” jelas Welfizar.
Oleh karena itu, Welfizar menekankan pentingnya membangun kerjasama dan kolaborasi multipihak untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat Agam ke depan.






