EkonomiRanah

Indonesia Geser Impor Minyak, Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah

172
×

Indonesia Geser Impor Minyak, Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
selat-hormuz-ditutup,-ri-bakal-beli-minyak-mentah-dari-as
Selat Hormuz Ditutup, RI Bakal Beli Minyak Mentah dari AS

Jakarta – Pemerintah mengambil langkah antisipatif untuk menjaga pasokan minyak mentah nasional di tengah konflik yang berkecamuk di Timur Tengah. Salah satu strategi utama adalah mengalihkan sumber impor minyak mentah ke Amerika Serikat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari skenario terburuk jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut.

“Skenarionya adalah sebagian crude yang kita ambil dari Timur Tengah, sekarang kami alihkan untuk ambil dari Amerika, supaya ada kepastian ketersediaan crude kita,” tegas Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Bahlil menjelaskan, selama ini Indonesia mengimpor sekitar 20-25 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah. Negara lain yang menjadi sumber impor adalah Afrika, Brasil, dan Amerika Serikat.

Keputusan untuk mengalihkan impor ke Amerika Serikat didasari pertimbangan potensi penutupan Selat Hormuz, jalur perdagangan global yang sangat vital.

“Keyakinan kami setelah melakukan kajian, ini tidak akan bisa kami ramalkan kapan selesainya,” imbuh Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil memastikan bahwa impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan RON 90, 92, 95, dan 98 dalam kondisi aman. Pasalnya, pasokan berasal dari negara-negara di Asia Tenggara dan di luar Timur Tengah.

Stok BBM jenis solar juga dipastikan aman karena Indonesia tidak lagi melakukan impor solar pada tahun ini.

Untuk Liquefied Petroleum Gas (LPG), Bahlil menyebutkan bahwa impor tahun ini mengalami kenaikan menjadi 7,8 juta metrik ton. Sebanyak 70 persen pasokan berasal dari Amerika Serikat dan 30 persen dari Timur Tengah, termasuk Saudi Aramco.

Namun, karena kilang Arab Saudi ikut terdampak konflik, pemerintah mengalihkan suplai ke negara yang tidak terkait dengan Selat Hormuz.

Sebagai informasi, konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pecah pada Sabtu pekan lalu, dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan balasan.