Jakarta – Sektor manufaktur dalam negeri terancam terganggu akibat konflik yang berkecamuk di Timur Tengah antara Amerika-Israel dan Iran.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, konflik ini berpotensi memicu gejolak harga energi global dan mengganggu alur perdagangan internasional.
“Kami terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026).
Agus Gumiwang menjelaskan, gangguan distribusi energi global menjadi ancaman utama bagi sektor manufaktur.
Menurutnya, kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, adalah jalur vital perdagangan minyak dunia.
Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut, sehingga setiap gangguan dapat memicu lonjakan harga energi internasional.
Menperin menyoroti penurunan lalu lintas kapal tanker akibat situasi geopolitik yang memanas, yang berpotensi menaikkan harga minyak global.
Kenaikan harga energi global akan berdampak langsung pada industri manufaktur, terutama industri yang menggunakan energi sebagai komponen biaya produksi utama, seperti petrokimia, logam dasar, semen, dan pupuk.
Kenaikan harga energi dalam jangka panjang dapat menggerus efisiensi produksi dan daya saing produk di pasar domestik maupun ekspor.
Konflik geopolitik juga berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku industri yang diimpor, terutama bagi industri kimia, petrokimia, tekstil, logam, serta makanan dan minuman.
Ketegangan geopolitik juga dapat meningkatkan biaya pengadaan bahan baku dan memperpanjang waktu pengiriman akibat perubahan jalur logistik global.
Menperin juga menyinggung potensi dampak gangguan jalur perdagangan internasional terhadap kinerja ekspor sektor manufaktur.
Ketegangan geopolitik memicu volatilitas pasar global, yang mengakibatkan fluktuasi permintaan dari negara tujuan ekspor.
“Kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia selama ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional,” tegasnya.
Untuk menjaga ketahanan sektor industri nasional, pemerintah berupaya memperkuat struktur industri hulu, meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri, dan memperluas diversifikasi pasar ekspor.
Agus Gumiwang juga mendorong peningkatan efisiensi energi di sektor industri dan percepatan transformasi menuju industri hijau untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Kementerian Perindustrian akan terus berkoordinasi dengan pelaku industri, asosiasi, dan kementerian/lembaga terkait untuk memastikan sektor industri manufaktur nasional tetap tumbuh dan berdaya saing di tengah dinamika global.






