Ranah

Libur Lebaran Tekan Penjualan Mobil Nasional Maret 2026

145
×

Libur Lebaran Tekan Penjualan Mobil Nasional Maret 2026

Sebarkan artikel ini
penjualan-mobil-anjlok-13,8-persen-pada-maret-2026
Penjualan Mobil Anjlok 13,8 Persen pada Maret 2026

Jakarta – Penjualan mobil di Indonesia mengalami kontraksi sebesar 13,8 persen secara tahunan pada Maret 2026. Pelemahan kinerja pasar otomotif nasional ini dipicu oleh durasi libur Lebaran yang cukup panjang pada bulan tersebut.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan wholesale (pabrik ke dealer) pada Maret 2026 hanya mencapai 61.271 unit. Angka ini turun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 71.099 unit.

Tren serupa juga terjadi pada penjualan retail yang merosot 13,2 persen menjadi 66.637 unit. Capaian tersebut menjadi angka penjualan terendah sepanjang kuartal pertama 2026, baik untuk kategori mobil listrik maupun mobil berbahan bakar bensin (ICE).

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menjelaskan bahwa periode libur yang panjang berdampak langsung pada aktivitas operasional dealer dan proses distribusi. Sebagai perbandingan, penjualan wholesale pada Februari 2026 sempat menyentuh angka 81.250 unit.

Di sisi lain, segmen mobil listrik menunjukkan performa yang kontras. Sepanjang kuartal pertama 2026, penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) justru melonjak 95,9 persen dengan total 33.150 unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebaliknya, tekanan dialami oleh mobil berbahan bakar fosil. Penjualan kategori Low Cost Green Car (LCGC) tercatat terkoreksi hingga 29,9 persen dibandingkan periode Januari hingga Maret 2025.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing, Bob Azam, mengonfirmasi bahwa libur Lebaran menjadi faktor utama penurunan kinerja di bulan ketiga. Namun, ia belum dapat memastikan penyebab spesifik penurunan penjualan mobil bensin pada kuartal pertama karena masih dipengaruhi oleh jumlah hari kerja.

Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa penurunan penjualan saat libur Lebaran merupakan hal yang wajar terjadi dalam industri otomotif.

Jakarta – Industri otomotif nasional mengalami perlambatan kinerja pada Maret 2026. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan penjualan mobil sebesar 13,8 persen secara tahunan, yang dipicu oleh durasi libur Lebaran yang cukup panjang pada bulan tersebut.

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menjelaskan bahwa periode libur yang panjang berdampak langsung pada aktivitas penjualan. Data mencatat penjualan wholesale (pabrik ke dealer) pada Maret 2026 mencapai 61.271 unit, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 71.099 unit.

Tren serupa juga terjadi pada penjualan retail yang merosot 13,2 persen menjadi 66.637 unit dibandingkan Maret 2025. Angka penjualan pada Maret 2026 ini menjadi yang terendah jika dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya, baik untuk jenis mobil listrik maupun mobil berbahan bakar bensin (ICE).

Sebagai perbandingan, penjualan wholesale pada Februari 2026 sempat mencapai 81.250 unit. Sepanjang kuartal pertama 2026, mobil ICE non-KBH2 masih mendominasi pasar, dengan volume penjualan tertinggi terjadi pada Februari sebanyak 51.063 unit.

Di sisi lain, kinerja penjualan mobil listrik sepanjang kuartal pertama 2026 justru menunjukkan pertumbuhan signifikan. Penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) melonjak 95,9 persen dengan total 33.150 unit.

Sebaliknya, penjualan mobil berbahan bakar fosil mengalami tekanan pada kuartal pertama tahun ini. Penjualan kategori Low Cost Green Car (LCGC), misalnya, terkoreksi hingga 29,9 persen dibandingkan periode Januari hingga Maret 2025.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing, Bob Azam, mengonfirmasi bahwa libur Lebaran menjadi faktor utama penurunan kinerja di bulan ketiga. Namun, ia belum dapat memastikan penyebab spesifik penurunan penjualan mobil bensin pada kuartal pertama karena masih dipengaruhi oleh jumlah hari kerja.

Sementara itu, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa penurunan penjualan saat libur Lebaran merupakan fenomena yang wajar terjadi.