Ranah

Pakar IPB Soroti Prospek dan Tantangan Sayuran Nasional

142
×

Pakar IPB Soroti Prospek dan Tantangan Sayuran Nasional

Sebarkan artikel ini
teknologi-ini-diharapkan-bisa-jawab-tantangan-perubahan-iklim
Teknologi Ini Diharapkan bisa Jawab Tantangan Perubahan Iklim

Jakarta – Industri sayuran Indonesia dinilai masih memiliki prospek cerah di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Nilai total produksi sayuran nasional saat ini diperkirakan mencapai Rp120 triliun per tahun, didukung tingkat keuntungan petani sayur yang disebut lebih tinggi dibanding rata-rata keuntungan petani komoditas lain.

Pakar Pertanian IPB University Bayu Krisnamurthi menilai besarnya potensi itu harus diimbangi dengan sistem pangan yang kuat untuk menopang pengembangan sektor sayuran di Indonesia. “Dengan prospek besar itu yang dibutuhkan adalah sistem pangan yang mendukung pengembangan ‘persayuran’ Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

Bayu menjelaskan, sistem pangan sayuran mencakup berbagai komponen penting, mulai dari benih yang baik dan terjamin, usahatani serta petani yang andal, hingga penanganan pascapanen modern. Seluruh unsur itu diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan, kesegaran sayur, dan keamanan pangan.

Namun, ia menilai sektor ini tengah menghadapi tantangan berat. Perubahan iklim dan ketidakpastian cuaca makin mengancam produksi. Di saat yang sama, kenaikan harga pupuk dan plastik kemasan akibat perang ikut menekan usaha persayuran di hulu maupun hilir.

Konversi dan degradasi lahan juga terus menggerus kapasitas produksi. Kondisi itu diperburuk oleh usia petani yang kian menua, sehingga pengembangan sektor sayur menjadi semakin sulit.

Menurut Bayu, solusi yang paling dapat diandalkan adalah penerapan teknologi yang didorong investasi. Teknologi perbenihan, kata dia, diharapkan mampu menjawab kebutuhan keragaman jenis dan kualitas yang diminta konsumen, sekaligus membantu menghadapi dampak perubahan iklim.

Ia menambahkan, lahan yang makin sempit menuntut tanaman yang lebih produktif. Langkah itu, menurut dia, juga penting untuk meningkatkan pendapatan petani.

Pada kesempatan yang sama, Managing Director East West Seed Indonesia (Ewindo) Glenn Pardede menegaskan bahwa plant genetic resources, termasuk benih, merupakan pondasi biologis ketahanan pangan. Benih juga menjadi dasar utama dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.

Sejumlah kajian, kata dia, menunjukkan peningkatan genetik melalui varietas unggul dapat menaikkan hasil sekitar 20 hingga 50 persen, tergantung komoditas dan kondisi. “Kami melihat bahwa benih unggul adalah pondasi penting, tetapi tidak berdiri sendiri. Kami mendorong pendekatan dan kontribusi yang lebih luas dalam sistem pangan melalui peningkatan kapasitas petani dan mendorong konsumsi pangan sehat,” tuturnya.

Dalam perakitan benih unggul, Ewindo memusatkan perhatian pada pengembangan benih yang adaptif terhadap perubahan iklim dan tekanan lingkungan. Untuk mendukung strategi itu, perusahaan mengalokasikan investasi besar pada peralatan biomolekuler dan teknologi Double Haploid.