Ranah

Pakar Kesehatan Dorong Mitigasi Paparan Zat Kimia Sebelum Kehamilan

108
×

Pakar Kesehatan Dorong Mitigasi Paparan Zat Kimia Sebelum Kehamilan

Sebarkan artikel ini
sains-di-balik-bpa,-senyawa-kimia-yang-kerap-jadi-perdebatan
Sains di Balik BPA, Senyawa Kimia yang Kerap Jadi Perdebatan

Jakarta – Pakar obstetri dan ginekologi, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp.OG, mengingatkan pentingnya kewaspadaan dini terhadap paparan zat kimia pengganggu hormon atau endocrine disrupting chemical (EDC) bagi pasangan yang merencanakan kehamilan. Langkah preventif ini dinilai krusial untuk memastikan kesehatan janin dan kualitas generasi mendatang.

Budi menekankan perlunya perubahan pola pikir dalam perencanaan keluarga. Menurutnya, kehamilan tidak boleh lagi dipandang sebagai peristiwa yang terjadi secara kebetulan, melainkan harus melalui persiapan yang matang dan terukur.

“Perencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Gak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan,” ujar Budi, Selasa (26/5/2026).

Ia menyoroti fase seratus hari sebelum konsepsi sebagai periode kritis yang sering kali luput dari perhatian. Fokus pada seribu hari pertama kehidupan dinilai belum cukup jika tidak dibarengi dengan eliminasi paparan zat berbahaya, seperti Bisphenol A (BPA) dan senyawa EDC lainnya, jauh sebelum pembuahan terjadi.

BPA, yang lazim ditemukan dalam plastik polikarbonat dan resin epoksi, dikenal luas dalam dunia medis sebagai zat yang mampu mengganggu sistem hormon manusia. Mengingat risiko tersebut, Budi menegaskan bahwa tiga bulan pertama kehamilan merupakan masa paling rentan, di mana ibu hamil harus ekstra ketat menghindari paparan zat yang dapat mengacaukan keseimbangan hormon.

Sebagai langkah mitigasi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan regulasi ambang batas migrasi BPA pada kemasan pangan. Kebijakan ini menjadi instrumen vital dalam mengawasi keamanan produk yang beredar di masyarakat.

Seiring dengan kemajuan riset, perhatian terhadap dampak lingkungan terhadap sistem biologis manusia pun kian meningkat. Para peneliti kini memperluas cakupan studi tidak hanya pada BPA, tetapi juga mendalami berbagai jenis EDC lain di lingkungan sekitar guna memetakan risiko kesehatan secara lebih komprehensif.