Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat perlambatan pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Oktober 2025. Pertumbuhan M2 tercatat 7,7 persen (yoy).
Angka ini melambat setelah pada September mencatatkan pertumbuhan tertinggi.
Ekonom menilai, kondisi ini dipengaruhi oleh aliran modal keluar (capital outflow) di pasar surat utang negara. Selain itu, minimnya momen khusus yang mendorong pertumbuhan juga menjadi faktor.
Laporan BI yang dipublikasikan pada 22 November 2025 mencatat total M2 pada Oktober 2025 sebesar Rp 9.783,1 triliun. Pada bulan sebelumnya, pertumbuhan M2 mencapai 8 persen.
Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa capital outflow memengaruhi peredaran uang di sistem keuangan.
“Pada periode bulan Oktober itu kan terjadi capital outflow yang cukup besar di pasar surat utang negara, jadi banyak investor asing keluar dari pasar surat utang negara kita,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Myrdal menambahkan, pada Oktober tidak ada momen spesial seperti suntikan dana Rp 200 triliun untuk Himbara yang dilakukan Menteri Keuangan pada September.
Aktivitas ekonomi yang masih berjalan bertahap juga disoroti. Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja negara hingga akhir Oktober 2025 masih 73,5 persen dari target.
Dari sisi kredit, pelaku pasar dan perbankan dinilai masih selektif, terutama untuk UMKM dan kredit non-investasi.
Meski demikian, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai pelambatan M2 belum tentu menandakan penurunan aktivitas ekonomi.
Secara tren, M2 masih jauh di atas posisi awal tahun dengan pertumbuhan sekitar 5,5 persen.
“Sehingga secara kumulatif likuiditas dalam perekonomian jelas lebih longgar dibandingkan awal 2025,” kata Josua.
Josua menambahkan, indikator permintaan domestik justru menunjukkan perbaikan.
Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik tajam dari 115,0 pada September menjadi 121,2 pada Oktober.
Pertumbuhan M2 yang melambat lebih tepat dilihat sebagai penyesuaian laju pertumbuhan likuiditas, bukan sinyal pelemahan aktivitas ekonomi yang tajam.






