SAWAHLUNTO – PT Guguk Tinggi Coal mulai mengalihkan fokus rehabilitasi lahan pascatambang di kawasan Parambahan, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, dari sekadar penghijauan konvensional menjadi kawasan produktif. Perusahaan kini membudidayakan berbagai komoditas bernilai ekonomi tinggi di area bekas tambang batubara tersebut sebagai upaya memulihkan kesuburan tanah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Direktur PT Guguk Tinggi Coal, Defrizal Chon, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan terobosan untuk memastikan lahan yang telah digarap sejak 2009 itu tidak terbengkalai. “Kami ingin lahan pascatambang tidak sekadar kembali hijau, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ungkap Defrizal, Rabu (17/6).
Saat ini, perusahaan tengah melakukan uji coba penanaman pada lahan seluas 1,5 hektare. Beragam tanaman buah-buahan seperti manggis, kelengkeng, sawo, jambu, durian, hingga kelapa hibrida unggul menjadi fokus utama dalam program ini.
Khusus untuk komoditas kelapa, perusahaan menerapkan standar teknis dengan jarak tanam 8 x 8 meter. Bibit hibrida yang digunakan diproyeksikan mulai berbunga pada usia 3 hingga 4 tahun, dengan masa panen perdana diperkirakan pada usia 5 hingga 7 tahun. Tanaman ini dipilih karena memiliki siklus produktif yang panjang, yakni mencapai 40 hingga 50 tahun.
Program ini masih berada dalam fase evaluasi. Jika hasil uji coba menunjukkan keberhasilan, pihak perusahaan berkomitmen untuk memperluas cakupan penanaman ke area yang lebih luas.
Defrizal, yang juga merupakan mantan anggota DPRD, berharap inisiatif ini dapat menjadi model percontohan bagi pelaku industri pertambangan lainnya. Ia mendorong agar pengelolaan kawasan pascaoperasi dilakukan secara berkelanjutan, sehingga lahan bekas tambang tetap produktif dan memberikan nilai tambah jangka panjang.






