Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan pembangunan dua pabrik metanol di Lhokseumawe, Aceh, dan Bontang, Kalimantan Timur. Langkah strategis ini dilakukan untuk mendukung program biodiesel 50 atau B50 nasional.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menjelaskan bahwa fasilitas tersebut akan mengolah minyak sawit mentah (CPO) menjadi biofuel. Pembangunan pabrik ini bertujuan menekan ketergantungan impor metanol yang saat ini mencapai 1,5 juta ton per tahun.
Rahmad memperingatkan, tanpa adanya pabrik baru, kebutuhan impor metanol nasional diprediksi akan melonjak hingga 2,5 juta ton.
Proyek ini merupakan penugasan dari Kementerian Pertanian yang telah mendapatkan restu dari Badan Pengelola Investasi Danantara. Rahmad memastikan studi kelayakan untuk pembangunan kedua pabrik tersebut telah rampung.
Terkait progres, Pupuk Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman dengan Mubadala untuk pabrik di Lhokseumawe. Sementara itu, rencana pembangunan pabrik di Bontang saat ini masih dalam proses.
Pemilihan lokasi di Lhokseumawe dan Bontang didasarkan pada ketersediaan sumber daya gas yang memadai untuk kebutuhan produksi. Selain itu, keberadaan kawasan industri milik Pupuk Indonesia di kedua wilayah tersebut dinilai mampu mempercepat proses pembangunan.
Mengenai pendanaan, Pupuk Indonesia masih menghitung besaran belanja modal atau capital expenditure yang dibutuhkan, meskipun kesepakatan mengenai kebutuhan dana telah tercapai. Pembangunan kedua pabrik ini diperkirakan akan memakan waktu sekitar 40 bulan.






