Jakarta – International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) kembali hadir memasuki tahun ke-35 penyelenggaraannya. Mengusung tema “From Lens to Legacy”, ajang yang digagas Taman Safari Indonesia ini tidak sekadar menjadi arena adu kreativitas, melainkan instrumen strategis untuk menggaungkan pesan konservasi satwa liar melalui medium visual.
Fotografer senior, Arbain Rambey, menekankan pentingnya orisinalitas bagi para peserta yang ingin menembus babak final. Ia mengamati adanya kecenderungan peserta yang terjebak meniru gaya visual pemenang edisi sebelumnya. Padahal, dewan juri justru menantikan perspektif segar yang belum pernah ditampilkan.
“Menang lomba foto itu sederhana, cukup buat karya yang lebih bagus dari yang lain. Jadikan hasil kompetisi sebelumnya sebagai referensi, bukan untuk ditiru mentah-mentah,” tegas Arbain.
Selain kreativitas, Arbain mengingatkan bahwa kepatuhan terhadap aturan teknis sering kali menjadi batu sandungan bagi peserta. Banyak karya dengan kualitas visual mumpuni justru harus gugur karena mengabaikan ketentuan dasar, seperti batasan objek satwa yang telah ditetapkan panitia.
“Ada kategori dan batasan yang tidak boleh dilanggar. Memahami aturan main adalah langkah awal memperbesar peluang meraih podium juara,” imbuhnya.
Di sisi lain, Board Advisory Taman Safari Indonesia Group, Agus Santoso, berharap tema tahun ini mampu mendorong fotografer dan videografer untuk menghasilkan karya yang melampaui fungsi dokumentasi. Ia ingin setiap bidikan kamera menjadi pesan yang kuat bagi pelestarian alam.
“Karya yang dihasilkan diharapkan menjadi pesan bermakna dan warisan kesadaran bagi generasi mendatang,” ujar Agus.
Selama tiga dekade lebih, IAPVC telah membangun basis komunitas yang loyal. Kompetisi ini secara konsisten menarik minat para pegiat fotografi untuk terus kembali dengan inovasi karya yang lebih segar setiap tahunnya, menjadikannya salah satu ajang bergengsi dalam dunia fotografi satwa di Indonesia.






