Ranah

Investasi Asing Langsung ke Asia Tenggara Meningkat

139
×

Investasi Asing Langsung ke Asia Tenggara Meningkat

Sebarkan artikel ini
investasi-asing-langsung-ke-asia-tenggara-meningkat
Investasi Asing Langsung ke Asia Tenggara Meningkat

Jakarta – Investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia menjadi sorotan utama sebagai pendorong peningkatan investasi di kawasan Asia Tenggara sepanjang tahun 2024. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan hal tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, Rabu (2/7/2025).

Faisol menjelaskan bahwa investasi di Asia Tenggara mengalami kenaikan signifikan. “Kenaikan investasi sebesar 10 persen dari US$ 205 miliar ke US$ 225 miliar,” ujarnya saat rapat.

Menurut Faisol, data tersebut bersumber dari World Investment Report 2025 yang dirilis oleh United Nations Trade and Development (UNCTAD). Laporan itu menyoroti bahwa peningkatan signifikan FDI ke Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam menjadi faktor utama yang mendorong rekor tertinggi FDI ke kawasan tersebut dalam enam tahun terakhir.

Sepanjang 2024, Indonesia mencatatkan aliran investasi asing langsung sebesar US$ 24 miliar, meningkat dari US$ 21 miliar pada tahun sebelumnya. Investasi ini terutama mengalir ke sektor pengolahan mineral, energi, dan pusat data.

Namun, pertumbuhan FDI di Asia Tenggara kontras dengan kondisi di beberapa negara berkembang di Asia. UNCTAD mencatat penurunan aliran investasi asing langsung yang masuk ke kawasan tersebut sebesar 3 persen, dari US$ 622 miliar pada 2023 menjadi US$ 605 miliar pada 2024.

Faisol menambahkan, temuan UNCTAD sejalan dengan data dari Council of Foreign Relations. Lembaga tersebut mencatat adanya pergeseran sumber produksi perusahaan besar dari Amerika Serikat dan Uni Eropa ke kawasan Asia Tenggara. “Tren ini menunjukkan penurunan tajam pangsa Tiongkok sebagai basis produksi global,” katanya.

Council of Foreign Relations mencatat, pada kuartal I 2025, hanya 42 persen perusahaan yang memilih Cina sebagai lokasi produksi. Angka ini menurun dibandingkan dengan 2019 yang mencapai 61 persen. Sebaliknya, Asia Tenggara mengalami kenaikan dari 14 persen pada 2019 menjadi 26 persen pada 2025.

Faisol menilai, kondisi ini sebagai sinyal positif adanya relokasi dan diversifikasi basis produksi untuk mengurangi ketergantungan terhadap suatu negara. “Ini menunjukkan Asia Tenggara termasuk Indonesia mulai menjadi lokasi yang semakin strategis bagi relokasi dan perluasan investasi global,” jelasnya.

Ia mencontohkan, relokasi industri panel surya dari Cina sebagai salah satu peluang. Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebabkan banyak produk Cina, termasuk panel surya, kehilangan daya saing di pasar ekspor.

Kondisi ini mendorong produsen panel surya asal Cina untuk memindahkan lokasi produksi ke Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Malaysia. “Hal ini tercermin dari penurunan nilai ekspor panel surya Tiongkok ke Amerika,” imbuhnya.

Faisol meyakini, Indonesia memiliki potensi besar sebagai lokasi alternatif relokasi investasi panel surya dari Cina. Hal ini terlihat dari sejumlah kemitraan strategis antara perusahaan Cina dan perusahaan lokal seperti PT Lesso New Energy, Pertamina NRE, PT Trina Mas Agra Indonesia, dan PT Thornova Solar Indonesia.