Yogyakarta – Peternak itik petelur didorong untuk meningkatkan kesejahteraan hewan ternak demi menghasilkan telur berkualitas tinggi dan berdaya saing.
Hal ini mengemuka dalam seminar “Masa Depan Peternakan Itik Petelur: Kesejahteraan Hewan dan Peluang Pasar” yang digelar Across Species Project Indonesia (ASPI) di Yogyakarta, Kamis (18/9/2025).
Seminar ini menyoroti praktik peternakan itik petelur yang masih menggunakan sistem kandang baterai. Sistem ini dinilai membatasi ruang gerak itik dan menghambat ekspresi perilaku alami mereka.
“Ada sejumlah isu kesejahteraan dalam peternakan itik petelur, mulai dari sistem kandang dan ruang gerak yang terbatas, ketiadaan akses air untuk mandi atau berenang, hingga kualitas udara,” ujar Dhiani Probhosiwi, Co-Executive Director ASPI.
Padahal, menurut penelitian awal ASPI, telur dari itik yang dipelihara dalam kandang baterai cenderung memiliki cangkang yang lebih tipis. Cangkang tipis ini rentan pecah dan meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.
Seminar ini menghadirkan sejumlah pakar yang membahas pentingnya kesejahteraan itik petelur, termasuk kebutuhan air, formulasi pakan yang efisien, dan tren pasar telur bebas sangkar (cage-free).
“Tidak bisa diubah, tidak bisa dibohongi, tidak bisa dihindari, bahwa itik adalah unggas air,” tegas Ir. Imam Suswoyo dari Universitas Jenderal Soedirman, menekankan pentingnya akses air bagi itik.
Pemerintah Daerah DIY juga mendukung upaya peningkatan kesejahteraan itik petelur. “Diperlukan adanya komunikasi dan edukasi yang berkelanjutan dari berbagai pihak,” kata drh. Agung Ludiro, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY.
Diharapkan, seminar ini menjadi langkah awal untuk mewujudkan peternakan itik petelur yang lebih sejahtera dan menghasilkan telur berkualitas tinggi.






