Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menuai kritik. Ahli gizi, Tan Shot Yen, menyoroti penggunaan makanan cepat saji atau ultra processed food (UPF) dalam program tersebut.
Menurut Tan, alih-alih meningkatkan gizi anak-anak, program ini justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
“Kita bisa memberikan otak-otak, kita bisa kasih telur puyuh pindang. Masak kita kalah sama ibu-ibu yang jualan di pasar subuh,” ujar Tan dalam diskusi daring, Senin (17/11/2025).
Tan menjelaskan, Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Kesehatan sebenarnya telah menyusun panduan standar gizi dan makanan untuk program MBG.
Panduan tersebut bahkan memuat resep dan takaran gizi yang sesuai untuk ibu hamil dan anak-anak. Contoh menu yang disarankan antara lain sate lilit ikan tenggiri, lawar bali, dan pisang goreng.
Namun, implementasi di lapangan justru berbeda. Satuan pelayanan penyedia gizi (SPPG) kerap menyajikan makanan cepat saji dan susu sapi yang dicampur gula.
Tan menegaskan, makanan cepat saji dapat memicu obesitas, gangguan metabolisme, dan gangguan gizi pada anak-anak dan orang dewasa.
Selain itu, makanan cepat saji juga dapat mengganggu fokus dan membuat anak menjadi hiperaktif, yang berpotensi menurunkan performa akademik.
Tan mempertanyakan tujuan awal program MBG yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada 2045.
“Nah sekarang kalau (makanan) yang dibagi malah (membuat) performa akademiknya anjlok, gimana?,” tanyanya.
Tan mendorong agar SPPG menyajikan makanan dari sumber pangan asli dan bukan olahan. Ia juga mendorong variasi menu makanan khas daerah dari seluruh Indonesia.
“Jadi jangan pernah mengatakan anak-anak itu enggak doyan menu lokal. Barangkali yang masak yang gak benar,” kata Tan.
Tan juga mendorong kampanye “4 Reformasi + 5 Rekomendasi MBG” yang menuntut perubahan terhadap pelaksanaan proyek Presiden Prabowo Subianto itu.
“Kita betul-betul menginginkan agar menghentikan produk-produk industri masuk sebagai bagian dari MBG,” tegasnya.
Berikut adalah tuntutan perubahan Tan terhadap proyek MBG:
4 Reformasi Pelaksanaan MBG:
- Menghentikan distribusi UPF dalam MBG.
- Menghentikan operasional SPPG yang tidak sesuai petunjuk teknis dan berpotensi menimbulkan masalah.
- Menghentikan SPPG yang sudah bermasalah sampai mampu melaksanakan tugas sesuai dengan petunjuk teknis yang didahului simulasi terkontrol.
- Menerapkan sistem monitoring, evaluasi, dan supervisi yang akuntabel di semua SPPG.
5 Rekomendasi Pelaksanaan MBG:
- Menggandeng kantin sekolah agar menjadi dapur MBG yang berkualitas dengan ketentuan sebagai SPPG termodifikasi.
- Bekerja sama dengan unit kesehatan lingkungan atau puskesmas setempat sebagai layanan supervisi, monitoring, dan evaluasi.
- Transparansi keuangan setiap SPPG.
- Menerapkan edukasi makan bergizi tanpa campur tangan kepentingan industri di semua segmen penerima manfaat.
- Bekerja sama dengan tenaga pelaksana gizi puskesmas setempat.
- Mengalokasikan menu lokal sebagai 80 persen isi MBG di seluruh wilayah.






